Budaya Mangapar Kayu Mulai Tersisih

Image default
Budaya Publik Tips dan Triks

KBK.News – Martapura : Mangapar Kayu salah satu budaya masyarakat Banjar di bantaran sungai untuk mendapatkan kayu sebagai bahan bakar di dapur mereka (21/1/2019).

Salah satu kebiasaan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai di Kalimantan Selatan atau masyarakat Banjar, yakni mengapar kayu. Hal ini jarang diketahui oleh generasi muda sekarang terlebih mereka yang tinggal di perkotaan.

Mengapar kayu itu budaya atau kebiasaan masyarakat yang bagaimana?

Mengapar kayu adalah kebiasaan masyarakat yang berusaha mengumpulkan batang kayu (pokok) k atau bambu yang hanyut di sungai. Cara untuk mengambil kayu yang hanyut di sungai, diantaranya dengan berenang atau menggunakan perahu (jukung).

Baca juga : Jumlah Ikan Semakin Turun di Sungai Martapura

Selanjutnya, batang kayu yang diambil dibawa ketepi dan diangkut ke daratan untuk dijadikan sebagai kayu bakar. Budaya mengapar kayu ini merupakan kearifan lokal warga di Kalimantan Selatan. Sebab, batang kayu yang hanyut di sungai bukan hasil menebang pohon.

Batang pohon yang mati dan hanyut di sungai, biasanya terjadi pada saat hujan di bagian hulu sungai. Batang kayu yang tidak terpakai akan hanyut bersama dengan tingginya permukaan air.

Baca juga : Ekspor Sampah Dari Kabupaten Banjar Kotori Sungai di Banjarmasin

Marhadi Warga Desa Sungai Rangas, Kecamatan Martapura Barat mengatakan, mangapar kayu sudah menjadi kebiasan warga yang tinggal di bantaran Sungai Martapura. Hal itu sudah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat untuk mengambil batang kayu dan bambu yang hanyut di sungai untuk dijadikan kayu bakar.

“Sebelum ada kompor, minyak tanah dan gas seperti sekarang, tradisi “Mangapar Kayu” sangat ramai dan warga berlomba-lomba mengambil kayu yang hanyut,” jelasnya.

Menurut Marhadi yang akrab disapa Hadi, sekarang mangapar kayu masih berlangsung, namun tidak seramai 15 sampai 20 tahun lalu. Sebab, budaya mangapar kayu mulai tersisihkan, sebab masyarakat banyak yang beralih menggunakan kompor.

Baca juga  Tiga Mantan Anggota DPRD Banjar Terima Pesangon

Berdasarkan pengamatan, limbah kayu yang hanyut di sungai saat ini lebih banyak tidak termanfaatkan. Akibatnya, sebagian menjadi tumpukan sampah yang mengotori sungai dan bahkan di Kota Banjarmasin bisa menyumbat aliran sungai. Misalnya, tertahan diantara tiang jembatan pasar dan terus menerus menumpuk, sehingga aliram sungai terganggu.

Related posts

Pemkab Banjar Tidak Serius Tangani Fakir Miskin

admin

Monopoli Pengadaan Buku Di Batola Dibantah Kadisdik

admin

Para Pedagang Pasar Terapung Lok Baintan bermalam di Pasar Terapung Banjarmasin

admin

KBK Kantor Berita Kalimantan

admin

Tema Hari Pahlawan Semangat Pahlawan Di Dadaku

admin