
(Tangkapan layar you tube)
KBK.News, JAKARTA– Lagu Selamat Hari Lebaran karya Ismail Marzuki sudah menjadi ikon setiap perayaan Idul Fitri di Indonesia.
Namun, jarang sekali kita mendengar lagu ini diputar hingga selesai. Banyak yang mungkin belum tahu bahwa dalam lirik lengkapnya, lagu ini menyampaikan kritik sosial yang tajam, termasuk sindiran kepada pemerintah.
Lirik yang sering diputar hanya bagian awal:“Minal aidin wal faizin, maafkan lahir dan batin. Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.”
Namun, bagian lengkapnya ternyata menyindir para pemimpin agar lebih memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bukan sekadar janji kosong.
Selain itu, lagu ini juga mengkritik perilaku negatif yang terjadi saat Idul Fitri, seperti berjudi, mabuk-mabukan, hingga kekerasan dalam rumah tangga:
“Cara orang kota berlebaran lain lagi, kesempatan ini dipakai buat berjudi. Sehari semalam main ceki mabuk brandi, pulang sempoyongan kalah main pukul istri.”
Tak hanya kritik sosial, lagu ini juga mengabadikan tradisi Jakarta masa lampau ketika trem disediakan gratis pada hari Lebaran:
“Ada pula yang naik trem gratis, bercampur berdesak-desakan, tertawa gembira berlebaran, hilang dendam habis perkara.”
Lirik-lirik yang dianggap sensitif ini membuat lagu Selamat Hari Lebaran sering dipotong saat diputar di media massa.
Akibatnya, generasi muda lebih mengenal bagian pembuka yang meriah tanpa memahami pesan kritik sosial yang terkandung di dalamnya.
Ismail Marzuki seakan ingin mengingatkan bahwa Lebaran bukan hanya soal kemenangan, tapi juga momentum introspeksi diri, baik bagi pemimpin maupun rakyat. Sayangnya, makna mendalam ini jarang terdengar karena lagu diputar dalam versi pendek.
Lagu ini tetap relevan hingga kini, menjadi pengingat bahwa semangat Lebaran adalah kemenangan hati, bukan sekadar perayaan meriah.
Penulis*/ Editor Iyus
(Dari berbagai sumber)