RSUD Raza Martapura Alami Lonjakan Pasien di Tengah Musim Hujan dan Banjir
KBK.News, MARTAPURA — Musim hujan disertai bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar berdampak pada meningkatnya kunjungan pasien ke RSUD Raza Martapura dalam dua pekan terakhir, Jumat (9/1/2026).
Direktur RSUD Raza Martapura, Arief Rachman, mengungkapkan bahwa lonjakan pasien paling terasa di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Kalau kita amati di UGD, dalam dua minggu ini memang terjadi peningkatan jumlah pasien. Bed hampir tidak pernah kosong, kosong sebentar lalu langsung terisi lagi,” ujar Arief, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, peningkatan ini makin terasa menjelang dan saat pelaksanaan Momen 5 Rajab (Haul Guru Sekumpul), di mana arus pasien yang datang ke rumah sakit sangat tinggi.
“Apalagi kemarin saat haul, itu luar biasa pasien yang datang,” tambahnya.
Arief menjelaskan, pasien yang datang ke IGD didominasi oleh penyakit dengan latar belakang hipertensi, gangguan pencernaan, demam (febris), serta penyakit degeneratif seperti stroke.
“Secara pola penyakit sebenarnya hampir sama, baik musim hujan maupun musim biasa. Tapi dari jumlah pasien memang terjadi peningkatan,” jelasnya.
Terkait evakuasi pasien oleh Damkar dan BPBD, Arief menilai belum bisa dipastikan sepenuhnya bahwa kondisi kesehatan pasien disebabkan langsung oleh banjir.
“Sebagian besar pasien yang dievakuasi itu pasien degeneratif. Apakah itu karena dampak banjir atau memang sebelumnya sudah sakit dan terkendala akses menuju rumah sakit, itu masih perlu dianalisis lebih dalam,” katanya.
Dari laporan tim epidemiologi dan surveilans rumah sakit, terdapat indikasi peningkatan penyakit seperti ISPA dan demam, yang diduga berkaitan dengan musim hujan dan kondisi lingkungan pascabanjir.
“Kalau dikaitkan dengan musim hujan dan efek banjir, mungkin memang ada kaitannya, terutama untuk ISPA dan febris,” ujarnya.
Sementara untuk gangguan pencernaan, Arief menduga kondisi tersebut dipengaruhi oleh pola makan yang tidak teratur, kelelahan, serta kurangnya kebersihan selama berada di wilayah terdampak.
“Mungkin karena kurang istirahat, pola makan tidak terkontrol, dan kebersihan tangan yang kurang terjaga,” jelasnya.
Meski hampir tidak pernah mengalami kekosongan bed di IGD, Arief memastikan kondisi rumah sakit masih dapat tertangani dengan baik.
“Alhamdulillah, ruangan rawat inap masih aman. Ada pergeseran pasien, ada yang pulang lalu diisi lagi. Tidak sampai stuck,” tegasnya.
Pihak rumah sakit kini terus melakukan pemantauan dan penelusuran data pasien, termasuk alamat tempat tinggal, guna memastikan apakah lonjakan kasus benar-benar berkaitan langsung dengan dampak banjir.
“Untuk memastikan itu, memang perlu penelusuran lebih dalam lagi,” pungkas Arief.
