KBK.NEWS JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar membangun fisik, melainkan meletakkan fondasi bagi transformasi ekonomi besar-besaran. Hal ini disampaikan AHY saat memberikan keynote speech di ajang bergengsi Big Alpha Business Summit 2025, Jakarta, Selasa (13/1/2025). 

​Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mematok target ambisius: pertumbuhan ekonomi 8 persen. Menko AHY optimis angka ini dapat dicapai dengan memperkuat konektivitas antarwilayah dan memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan daya saing nasional. Fokus pemerintah kini mencakup pembangunan infrastruktur digital, kesehatan, dan pendidikan guna memastikan produktivitas nasional melonjak secara inklusif.

​”Kita ingin pertumbuhan yang berkeadilan. Infrastruktur harus bisa dirasakan oleh semua, dari pusat kota hingga pelosok negeri,” ujar AHY.

​Selain mengejar target pertumbuhan, AHY juga menekankan pentingnya aspek kemanusiaan melalui rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergotong royong membangun kembali wilayah terdampak agar lebih tangguh (resilient) dan berkelanjutan.

#KemenkoInfrastruktur #InfrastrukturUntukSemua #Ekonomi8Persen #IndonesiaMaju

Poin Penting Mencapai Pertumbuhan Ekonomi 8%

​Untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut, pembangunan infrastruktur harus bertransformasi. Berikut adalah poin-poin strategis yang perlu dikawal:

1. Efisiensi Biaya Logistik (Konektivitas Multimoda)

​Indonesia masih memiliki biaya logistik yang cukup tinggi dibandingkan negara tetangga. Pembangunan jalan tol yang terintegrasi dengan pelabuhan dan bandara akan mempercepat arus barang, menurunkan harga di tingkat konsumen, dan meningkatkan daya saing ekspor.

BACA JUGA :  Menko AHY: Negara Tak Boleh Kalah, Lawan Mafia Tanah untuk Kepastian Hukum

2. Infrastruktur Digital Merata

​Pertumbuhan 8% membutuhkan kontribusi ekonomi digital. Perluasan jaringan internet cepat ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) akan membuka peluang bagi UMKM untuk masuk ke ekosistem global dan meningkatkan literasi digital nasional.

3. Hilirisasi Industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)

​Pembangunan infrastruktur harus diarahkan untuk mendukung pusat-pusat industri baru (hilirisasi). Dengan menyediakan akses energi, air bersih, dan transportasi di sekitar kawasan industri, Indonesia bisa beralih dari pengekspor bahan mentah menjadi negara industri bernilai tambah tinggi.

4. Ketahanan Infrastruktur & Mitigasi Bencana

​Sebagai negara Ring of Fire, infrastruktur harus dibangun dengan standar ketangguhan bencana. Rehabilitasi yang cepat dan berkelanjutan (seperti di Sumatra dan Aceh) memastikan roda ekonomi lokal tidak berhenti terlalu lama saat terjadi bencana.

5. Pemerataan Pembangunan Kewilayahan (Indonesia Sentris)

​Pertumbuhan tidak boleh hanya berpusat di Pulau Jawa. Investasi infrastruktur di luar Jawa akan menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru, mengurangi ketimpangan, dan menarik investasi asing (FDI) ke berbagai daerah.