KBK.NEWS JAKARTA – Ketegangan antara AS dan Iran pada Januari 2026 ini memberikan dampak ganda bagi perekonomian global dan Indonesia, terutama karena posisi Iran sebagai pemegang cadangan minyak dan gas (LNG) terbesar kedua di dunia.

​Berikut adalah rincian dampaknya per 15 Januari 2026:

​1. Dampak pada Harga Minyak Dunia

​Pasar minyak saat ini sedang dalam kondisi “napas tegang” (holding breath).

  • Lonjakan Harga: Pada awal Januari, harga minyak mentah (Brent dan WTI) sempat naik lebih dari 3% hingga menyentuh level tertinggi dalam 7 pekan karena kekhawatiran gangguan pasokan.
  • Koreksi Terkini: Namun, hari ini (15 Januari), harga sedikit mereda setelah Presiden Trump memberikan sinyal bahwa AS mungkin menunda tindakan militer jika Iran menghentikan kekerasan terhadap demonstran. Brent berada di kisaran USD 64-65 per barel.
  • Risiko Selat Hormuz: Kekhawatiran terbesar investor adalah jika Iran memblokade Selat Hormuz, yang dapat meroketkan harga minyak jauh di atas USD 100 per barel dalam sekejap.

​2. Dampak Langsung terhadap Ekonomi Indonesia

​Secara keseluruhan, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat, namun ada beberapa risiko yang harus diwaspadai:

  • Sektor Energi & Subsidi: Indonesia adalah importir minyak dan gas (LNG) yang besar. Kenaikan harga minyak dunia akan langsung menekan APBN 2026 karena beban subsidi BBM dan listrik yang membengkak. Ekonom memperingatkan adanya potensi ketidakstabilan harga energi domestik jika tensi tidak segera turun.
  • Nilai Tukar Rupiah: Ketegangan geopolitik membuat investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS dan Emas. Hal ini menyebabkan Rupiah melemah, yang saat ini berada di kisaran Rp 16.800 – Rp 16.900 per USD. Pelemahan ini bisa memicu inflasi dari barang-barang impor (imported inflation).
  • Ancaman Tarif Trump: Presiden Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif impor 25% bagi negara mana pun yang terus berbisnis dengan Iran. Namun, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan Indonesia tidak khawatir karena nilai perdagangan bilateral kita dengan Iran relatif kecil (sekitar USD 200 juta), sehingga dampak tarif tersebut akan minimal.
BACA JUGA :  AS Turunkan Tarif Impor untuk Indonesia Jadi 19 Persen, Ekspor AS Bebas Tarif

​3. Sektor yang Terkena Dampak di Indonesia

Sektor

Dampak

Transportasi & Logistik

Berisiko naik jika harga bahan bakar industri meningkat mengikuti tren global.

IHSG (Pasar Saham)

Mengalami volatilitas tinggi, namun diperkirakan tetap punya prospek menembus 10.000 di akhir 2026 jika konsumsi domestik terjaga.

Eksportir Komoditas

Mendapat keuntungan dari kenaikan harga energi global (seperti batubara), namun terbebani biaya pengiriman yang naik.

Kesimpulan:

Indonesia cukup aman dari ancaman “perang dagang” terkait Iran, namun sangat rentan terhadap lonjakan harga energi dan pelemahan Rupiah. Pemerintah saat ini fokus memperkuat cadangan devisa dan mencari diversifikasi sumber impor energi untuk mengantisipasi gangguan di Timur Tengah.

Sumber : cnbc, Metrotv, etc