STREET ART DAKWAH Bersama Gembel Hadirkan Edukasi Lintas Literasi dan Seni di RTH Taman Kamboja
KBK.News, BANJARMASIN – Komunitas Street Art Dakwah South Borneo berkolaborasi dengan komunitas Gembel (Gemar Belajar) menggelar kegiatan edukasi lintas literasi dan seni di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Kamboja, Banjarmasin, Minggu (25/1/2025).
Kegiatan yang dikemas dalam agenda Ahad Produktif ini menghadirkan diskusi santai, aktivitas literasi, hingga seni mural dan graffiti sebagai media penyampaian pesan edukatif dan nilai sosial kepada anak-anak, remaja, hingga pemuda.
Perwakilan Street Art Dakwah South Borneo, Ruli, menjelaskan bahwa Ahad Produktif merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap Minggu sore dengan melibatkan keluarga dan berbagai komunitas.
“Jika komunitas Gembel lebih fokus pada literasi buku, maka Ahad Produktif bergerak pada edukasi yang lebih luas. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Intinya, setiap orang punya potensi, dan potensi itu perlu disampaikan melalui kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.
Menurut Ruli, tujuan utama kegiatan ini adalah membangun konsistensi dan kebiasaan positif, sejalan dengan tagline yang diambil dari hadis riwayat Muslim: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.”
Ia menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan sangat erat kaitannya dengan literasi, baik melalui tulisan, seni rupa, maupun diskusi. Literasi dan seni dijadikan media penyampaian aspirasi pemuda, sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap kebodohan.
“Melalui kegiatan rutin setiap Ahad sore, peserta didorong untuk tetap aktif, produktif, dan berani mengekspresikan gagasan secara positif,” tambahnya.
Street Art Dakwah Indonesia sendiri berdiri sejak 2017, sementara Street Art Dakwah South Borneo/Banjarmasin mulai aktif kembali sejak November 2025. Hingga Januari 2026, komunitas ini telah memiliki satu sekretariat di Jalan Cempaka yang terbuka untuk berbagai aktivitas setiap hari.
Sementara itu, Gaga, Koordinator Komunitas Gembel, menyoroti kondisi tutupnya Perpustakaan Kota di RTH Kamboja setiap hari Minggu. Menurutnya, hal tersebut menjadi ironi dalam pelayanan publik.
“Fakta bahwa anak-anak tetap mengakses bahan bacaan melalui lapak komunitas menegaskan adanya kebutuhan riil yang belum terakomodasi secara institusional,” ujarnya.
Ia menilai perpustakaan sebagai fasilitas publik seharusnya menyesuaikan jam layanan dengan pola partisipasi warga, terutama pada hari libur. Tanpa penyesuaian tersebut, fungsi perpustakaan sebagai instrumen pemerataan akses pengetahuan dinilai belum optimal.
Melalui kolaborasi komunitas seperti ini, ruang publik diharapkan dapat menjadi wadah edukasi, literasi, dan ekspresi seni yang inklusif bagi masyarakat. (Masruni)
