KBK.News, MARTAPURA – Film horor Kuyang tidak semata menghadirkan sosok makhluk gaib sebagai sumber ketakutan. Lebih dari itu, film ini memposisikan kuyang sebagai metafora atas tekanan sosial yang dialami perempuan, khususnya dalam relasi keluarga dan institusi pernikahan yang masih kuat dipengaruhi budaya patriarkal, Sabtu (31/1/2026).

Berlatar di Desa Sungai Tinggi, kawasan Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kuyang membawa penonton menyusuri wilayah tua Banjar yang lekat dengan mitos, kepercayaan, serta kehidupan masyarakat sungai.

Latar ini tidak sekadar menjadi ruang visual, melainkan fondasi budaya yang membentuk konflik cerita.

Kehidupan masyarakat sungai digambarkan melalui aktivitas jukung yang menyusuri aliran air serta deretan rumah lanting yang berdiri di atas sungai. Sungai menjadi nadi kehidupan, ruang mobilitas, ruang domestik, sekaligus ruang simbolik yang kelak berperan penting dalam tragedi film.

Film ini juga menampilkan praktik adat Banjar yang masih hidup di tengah masyarakat. Salah satunya adalah badatang, prosesi lamaran keluarga Badri kepada Rusmiati. Prosesi ini diiringi dengan babilangan, perhitungan adat yang dipercaya memberi peringatan atas kecocokan pasangan. Hasil babilangan menempatkan hubungan Badri (Rio Dewanto) dan Rusmiati (Putri Intan Kasela) pada bilangan habu di atas tihang, yang dimaknai sebagai hubungan rapuh jika dipaksakan.

Namun, peringatan adat tersebut berhadapan dengan kehendak pribadi. Badri tetap ingin menikahi Rusmiati dengan tekad yang telah taikat mati. Ketegangan antara norma adat dan pilihan individu inilah yang menjadi benih konflik utama film.

Selain badatang dan babilangan, film Kuyang juga menampilkan tradisi beusung, prosesi perkawinan khas masyarakat Nagara. Dalam tradisi ini, pengantin diusung sebagai simbol penghormatan dan peralihan menuju fase hidup baru. Kehadiran beusung menegaskan keterlibatan keluarga dan lingkungan, serta memperkuat tradisi sebagai bagian penting dari struktur cerita, bukan sekadar ornamen budaya.

Di balik kuatnya tradisi, film ini memotret posisi perempuan dalam institusi pernikahan. Rusmiati digambarkan berada dalam posisi rentan di tengah struktur keluarga patriarkal. Tekanan terutama datang dari ibu mertua, yang membebankan seluruh pekerjaan domestik kepadanya serta menilai harga dirinya melalui kemampuan melahirkan keturunan.

BACA JUGA :  Film 'Iblis Dalam Kandungan 2' Akan Segera Tayang di Seluruh Bioskop Indonesia

Tubuh perempuan dalam film ini tidak sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Ia menjadi objek penilaian, pengawasan, dan tuntutan sosial. Ketika Rusmiati tak kunjung memiliki anak, tekanan berkembang menjadi wacana yang lebih ekstrem, keinginan keluarga agar Badri menikah lagi. Pada titik ini, film memperlihatkan rapuhnya posisi sosial perempuan dalam pernikahan ketika dianggap gagal memenuhi fungsi reproduktif.

Narasi tersebut merefleksikan ketakutan kolektif terhadap perempuan yang dianggap “menyimpang” dari peran ideal, yakni istri yang patuh, subur, dan tidak membantah. Horor dalam Kuyang pun perlahan bergeser dari ranah gaib ke ranah sosial. Kuyang digambarkan lahir dari tekanan yang terus-menerus dan ketidakmampuan lingkungan memahami penderitaan perempuan.

Meski demikian, film ini tidak menempatkan Badri sebagai tokoh antagonis. Ia digambarkan sebagai suami yang bertanggung jawab dan memiliki afeksi kuat terhadap Rusmiati. Badri berulang kali berusaha menengahi konflik antara istrinya dan sang ibu, serta menolak rencana keluarga untuk mencarikannya istri lain. Namun, posisinya tetap terjepit antara dua otoritas, sebagai anak dan sebagai suami.

Tragedi mencapai puncaknya ketika Rusmiati ketahuan warga saat menjelma menjadi kuyang. Dalam situasi genting tersebut, Badri kembali memilih melindungi istrinya dengan mendorong tong berisi tubuh Rusmiati ke sungai, ruang yang sejak awal menjadi saksi kehidupan mereka, sebagai upaya terakhir menyelamatkannya. Sementara itu, Badri merelakan dirinya tinggal di rumah lanting yang kemudian dilalap api.

Akhir cerita menutup film dengan ironi yang getir. Cinta yang teguh berujung pengorbanan, sementara Rusmiati, perempuan yang sejak awal ditekan, dinilai, dan disingkirkan, menjadi korban ketakutan kolektif masyarakat.

Kuyang pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang makhluk gaib, tetapi tentang bagaimana tradisi, tekanan sosial, dan stigma terhadap tubuh perempuan dapat melahirkan horor yang paling manusiawi. (Masruni)