Tiga Komunitas Gelar Bedah Buku “Riset Indonesia” di ULM, Dorong Diskusi Kritis di Kampus
KBK.News. BANJARMASIN – Tiga komunitas yakni Sekolah Rakyat Kalimantan Selatan, Litera ULM, dan XR Indonesia menggelar kegiatan bedah buku Riset Indonesia di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Selasa (25/2/2026).
Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di ruang terbuka depan kampus terpaksa dipindahkan ke dalam ruangan karena hujan. Meski demikian, antusiasme peserta tetap tinggi. Mahasiswa ULM serta sejumlah kampus lain di Banjarmasin turut hadir dalam diskusi tersebut.
Wira Surya Wibawa selaku narasumber dari XR Indonesia menjelaskan, buku Riset Indonesia merupakan karya yang digagas oleh Dandhy Laksono bersama timnya. Buku ini memuat hasil perjalanan dan temuan lapangan terkait kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.
Salah satu penggagas kegiatan menyampaikan, bedah buku ini bertujuan mendorong ruang-ruang diskusi kritis di lingkungan kampus.
“Kami ingin buku Riset Indonesia menjadi bahan diskusi kritis di kampus-kampus. Jangan takut membedah buku-buku yang bersifat kritis. Justru kampus harus menjadi ruang aman untuk bertukar pikiran dan refleksi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung adanya peristiwa pembubaran diskusi buku serupa di Madiun beberapa waktu lalu. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi refleksi penting tentang posisi buku dan diskusi kritis dalam kehidupan demokrasi.
“Kita perlu bertanya, mengapa diskusi buku bisa dibubarkan? Apakah buku dianggap ancaman atau bentuk doktrinasi? Padahal buku adalah ruang pengetahuan dan refleksi,” katanya.
Dalam buku tersebut diungkap sejumlah isu, antara lain kerusakan lingkungan, proyek strategis nasional yang dinilai menguntungkan segelintir pihak, privatisasi sumber daya seperti tanah dan air, ketimpangan pembangunan, disparitas pendidikan antara desa dan kota, serta kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat.
Salah seorang peserta, Nisa, mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut bukan hanya karena tema bukunya, tetapi juga karena pemantik diskusi dinilai mampu membuka cara pandang baru.
Ia mencontohkan persoalan sederhana di kehidupan sehari-hari, seperti air minum di Banjarmasin yang tidak dapat langsung dikonsumsi dari keran.
“Hal kecil seperti kenapa air minum di Banjarmasin tidak bisa diminum langsung, itu ternyata punya penjelasan panjang. Dari situ kita jadi terpantik untuk berpikir lebih jauh,” ujarnya.
Melalui rangkaian diskusi ini, penyelenggara berharap lahir kesadaran kolektif di kalangan generasi muda untuk melakukan perubahan, sekecil apa pun, di lingkungan masing-masing. (Masruni).
