DPKP Banjar Ukir Prestasi Nasional, Raih Juara II Kategori Survival di NFSC 2026
KBK.News, MARTAPURA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar di kancah nasional. Dalam ajang National Firefighter Skill Competition (NFSC) 2026 yang digelar di Palembang, tim DPKP Banjar sukses meraih posisi juara II pada kategori survival, salah satu nomor paling bergengsi dan menantang dalam kompetisi tersebut, Senin (4/5/2026).
Dua atlet andalan, Gusti Bayu Anzani Akhfira dan Samuel Timbang, tampil impresif sepanjang perlombaan. Keduanya mampu menunjukkan kemampuan terbaik hingga mengamankan podium kedua, mengungguli banyak peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kategori survival dikenal sebagai ujian paling komprehensif dalam NFSC. Para peserta dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga presisi dalam teknik, tangguh secara fisik, serta siap secara mental menghadapi simulasi kondisi darurat.

Penilaian meliputi ketepatan penggunaan peralatan, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), keselamatan kerja, koordinasi tim, hingga daya tahan di bawah tekanan tinggi. Setiap kesalahan prosedur maupun pelanggaran keselamatan dapat berdampak pada pengurangan nilai.
Selain survival, kompetisi yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-107 Pemadam Kebakaran ini juga mempertandingkan sejumlah kategori lain, seperti ladder pitching dan hose laying, yang menitikberatkan pada keterampilan teknis dan kekompakan tim di lapangan.
Kepala DPKP Banjar, Agus Siswanto, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Ia menyebut, prestasi ini menjadi yang terbaik sejak pihaknya mulai berpartisipasi dalam NFSC pada 2017.

“Alhamdulillah, ini pencapaian terbaik kami. Tahun lalu berada di peringkat empat, dan tahun ini berhasil naik menjadi juara dua nasional. Ini hasil kerja keras tim, latihan yang konsisten, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Banjar,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Agus menjelaskan, persiapan tim terbilang singkat dibandingkan daerah lain. Latihan intensif hanya berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan karena beririsan dengan bulan Ramadan.
“Beberapa daerah bahkan menjalani training center hingga enam bulan. Kami hanya sekitar dua sampai tiga bulan, namun dengan usaha maksimal dan doa masyarakat, hasil ini bisa diraih,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan sumber daya, baik dari sisi personel maupun anggaran, semangat tim tetap terjaga. Bahkan, sejumlah atlet harus turun di lebih dari satu kategori, sehingga menuntut stamina dan fokus ekstra.
Sementara itu, atlet DPKP Banjar, Samuel Timbang, mengaku bersyukur atas pencapaian tersebut meski masih menyimpan ambisi lebih tinggi.
“Alhamdulillah, ini tahun keempat saya ikut. Tahun lalu juara harapan satu, sekarang bisa naik jadi juara dua. Sebenarnya target kami juara satu, tapi kami sadar persiapan kami lebih singkat dibanding tim lain,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti sejumlah kendala yang dihadapi tim, mulai dari waktu latihan yang terbatas karena Ramadan hingga keterbatasan anggaran.
“Latihan kami hanya sekitar dua bulan, bahkan sempat terpotong puasa. Dari sisi anggaran juga terbatas. Tapi hasil ini tetap kami syukuri, dan jadi bahan evaluasi untuk ke depan,” tambahnya.
Ke depan, DPKP Banjar menekankan pentingnya regenerasi atlet sebagai langkah strategis menjaga kesinambungan prestasi. Munculnya atlet-atlet muda diharapkan mampu menjadi pelapis sekaligus memperkuat tim agar tetap kompetitif.
Dengan tren peningkatan prestasi yang konsisten, DPKP Banjar optimistis mampu meraih hasil lebih tinggi di masa mendatang, bahkan membidik posisi juara pertama di tingkat nasional pada ajang NFSC berikutnya.







