Cegah Salah Kaprah, RSUD Ratu Zalecha Sosialisasikan Penggunaan Obat Flu yang Benar
KBK.News, MARTAPURA – Upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terus digencarkan RSUD Ratu Zalecha melalui Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). Kali ini, edukasi difokuskan pada penggunaan obat flu yang tepat sekaligus meluruskan berbagai mitos yang masih dipercaya masyarakat.
Kegiatan penyuluhan digelar di ruang tunggu poliklinik rawat jalan, Senin (4/5/2026), dengan melibatkan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Jurusan Profesi Apoteker bersama tim PKRS.
Dalam penyampaian materi, peserta diberikan pemahaman mendasar bahwa flu disebabkan oleh virus influenza, sedangkan common cold berasal dari virus lain dengan gejala yang cenderung lebih ringan. Perbedaan ini penting diketahui agar masyarakat tidak keliru dalam penanganannya.
Tak hanya itu, sejumlah mitos yang kerap beredar juga diluruskan. Anggapan bahwa kehujanan menjadi penyebab utama flu hingga kebiasaan mengonsumsi antibiotik untuk menyembuhkan flu ditegaskan sebagai informasi yang tidak tepat.
“Antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri, bukan virus. Jika digunakan sembarangan, justru bisa memicu resistensi bakteri yang berbahaya,” jelas tim penyuluh dalam sesi edukasi tersebut.
Peserta juga diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam penggunaan obat flu, terutama pada anak usia di bawah dua tahun. Tidak semua obat aman dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan, sehingga konsultasi menjadi langkah yang sangat dianjurkan.
Ketua Tim PKRS RSUD Ratu Zalecha, Dwi Retmasushanty Arsini, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam membangun kesadaran masyarakat.
“Masih banyak masyarakat yang mempercayai mitos dalam pengobatan flu. Kami ingin memberikan pemahaman yang benar agar masyarakat lebih bijak menggunakan obat dan tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik,” ujarnya.
Melalui kegiatan edukatif ini, RSUD Ratu Zalecha menegaskan perannya tidak hanya sebagai layanan kuratif, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam upaya promotif dan preventif. Harapannya, masyarakat semakin cerdas dalam menggunakan obat serta mampu membedakan informasi kesehatan yang benar dan menyesatkan









