KBK.News, MARTAPURA – Kecelakaan tunggal kembali terjadi di kawasan tanjakan ujung Jembatan Sungai Asam, RT 2 Desa Sungai Asam, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Minggu siang sekitar pukul 14.00 WITA.

Sebuah truk pengangkut pasir putih dari arah Banjarmasin diduga tidak mampu menaklukkan tanjakan curam usai melintasi jembatan. Akibat beban berat yang dibawa, truk tersebut kehilangan tenaga, mundur, lalu terbalik di lokasi yang dikenal warga rawan kecelakaan.

Dalam insiden tersebut, seorang kernet sempat tertimbun material pasir. Beruntung, warga sekitar bergerak cepat melakukan evakuasi dengan menggali timbunan pasir sehingga korban berhasil diselamatkan.

Kejadian itu kembali memunculkan keresahan masyarakat. Pasalnya, menurut warga, lokasi tersebut bukan pertama kali memakan korban kecelakaan.

Warhamni, Ketua Pokdar Kamtibmas Bhayangkara Kalimantan Selatan sekaligus tokoh masyarakat Karang Intan, mengatakan peristiwa serupa sudah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini bukan kejadian pertama. Dalam dua tahun terakhir saja sudah belasan kali kecelakaan terjadi di titik ini. Ada truk pengangkut batu gunung, pupuk, pakan ayam, pasir, molen, aspal panas, bahkan alat berat juga pernah terbalik di lokasi yang sama,” ujarnya.

Menurut Warhamni, kondisi tanjakan yang cukup tinggi tepat setelah ujung jembatan menjadi faktor utama penyebab kecelakaan, terlebih bagi kendaraan bermuatan berat.

“Masalahnya, setelah keluar dari jembatan langsung berhadapan dengan tanjakan. Banyak kendaraan berat tidak mampu menanjak, akhirnya mundur lalu terbalik. Yang lebih mengkhawatirkan, di kiri kanan jalan ini rumah warga padat. Hampir setiap kecelakaan selalu mengancam rumah penduduk,” katanya.

BACA JUGA :  RAPI Lokal Karang Intan Salurkan Bantuan Sembako Untuk Korban Banjir di Kabupaten Banjar

Ia menambahkan, selama ini memang belum ada korban jiwa. Namun, sejumlah kejadian telah menyebabkan korban luka hingga patah tulang, serta menimbulkan trauma berkepanjangan bagi masyarakat sekitar.

“Masyarakat yang rumahnya di pinggir jalan hidup dalam rasa takut. Setiap ada truk besar melintas, mereka waswas kalau-kalau kendaraan mundur dan menghantam rumah,” ungkapnya.

Warhamni menyebut, aspirasi masyarakat yang diwakili salah satu tokoh setempat, Haji Hapiji, meminta Pemerintah Kabupaten Banjar segera turun tangan melakukan penanganan.

Menurutnya, solusi yang diusulkan masyarakat tidak membutuhkan anggaran besar. Salah satunya dengan memasang fondasi di sisi kiri dan kanan jalan, kemudian melakukan pengurukan serta peninggian badan jalan sekitar satu meter dari ujung jembatan menuju tanjakan.

“Usulan masyarakat sederhana saja. Tidak perlu biaya besar. Cukup dipasang fondasi kiri kanan, lalu diuruk dan dipadatkan sekitar satu meter dari ujung jembatan agar tanjakannya tidak terlalu curam. Dengan begitu potensi kecelakaan bisa diminimalisir,” jelasnya.

Seeagai tokoh masyarakat, Warhamni berharap Pemerintah Kabupaten Banjar beserta instansi terkait dapat segera meninjau langsung kondisi lapangan dan menindaklanjuti keluhan warga.

“Kami berharap pemerintah daerah sesegera mungkin melihat kondisi nyata di lokasi. Masyarakat menaruh harapan besar agar ada langkah konkret, penganggaran, dan penanganan secepatnya. Supaya ketakutan, trauma warga, serta ancaman bagi pengguna jalan yang selama ini terjadi bisa segera teratasi,” pungkasnya.