KBK.News, MARTAPURA – Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui Pelatihan Konseling Menyusui Metode 40 Jam yang digelar di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Banjarbaru, pada 2–6 Juni 2026.

Sebanyak 25 tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Banjar mengikuti pelatihan tersebut guna meningkatkan kemampuan dalam memberikan konseling menyusui yang efektif, sekaligus mendukung keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dan implementasi Program Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA).

Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Kabupaten Banjar dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak, serta mendukung percepatan penurunan angka stunting.

Selama lima hari pelatihan, peserta dibekali berbagai materi penting mulai dari teknik konseling menyusui, praktik pemberian makan bayi dan anak, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), penanganan masalah menyusui, hingga strategi pendampingan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Program PMBA sendiri menitikberatkan pada sejumlah indikator penting, di antaranya peningkatan cakupan bayi yang mendapatkan ASI dalam satu jam pertama setelah lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian MP-ASI yang tepat sejak usia enam bulan, serta keberlanjutan menyusui hingga anak berusia dua tahun.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dr. H. Noripansyah, menegaskan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran vital sebagai pendamping sekaligus edukator bagi ibu dan keluarga dalam praktik menyusui yang benar.

BACA JUGA :  Meski Sudah Diresmikan, Ketua DPRD Banjar Heran Puskesmas Sungai Tabuk 1 Tak Kunjung Beroperasi

“Pelatihan ini merupakan bentuk investasi sumber daya manusia kesehatan. Kami berharap peserta mampu menjadi konselor menyusui yang kompeten dan memberikan pendampingan berkualitas kepada ibu menyusui di wilayah kerjanya masing-masing. Dukungan yang tepat akan sangat membantu meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif sekaligus menjadi langkah penting dalam pencegahan stunting,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi geografis dan karakteristik masyarakat Kabupaten Banjar yang beragam menuntut pendekatan kesehatan yang komprehensif serta didukung tenaga kesehatan dengan kompetensi memadai.

“Keberhasilan program kesehatan ibu dan anak tidak hanya bertumpu pada tenaga kesehatan semata, tetapi juga memerlukan sinergi keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar berharap para peserta mampu menjadi agen perubahan di wilayah tugas masing-masing, dengan aktif memberikan edukasi, pendampingan, serta motivasi kepada ibu menyusui dan keluarga agar menerapkan pola pemberian makan bayi dan anak sesuai standar.

Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di bidang konseling menyusui diharapkan berdampak langsung terhadap meningkatnya cakupan ASI eksklusif dan perbaikan status gizi anak di Kabupaten Banjar, demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Banjar yang lebih maju dan sejahtera. (Dinkes/Banjarkab)