Penulis Pempred kbk.news : Syahminan 

JAKARTA, KANTOR BERITA KALIMANTAN (KBK.NEWS) – Papua selalu menjadi panggung di mana ruang hidup, hak adat, dan ambisi pembangunan negara saling berbenturan. Di tengah gemuruh konflik agraria tersebut, nama Mama Yasinta sempat mencuat sebagai simbol perlawanan akar rumput. Suaranya yang lantang membela tanah ulayat dari cengkeraman Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadikannya sosok ibu sekaligus pejuang yang dihormati.

​Namun, dinamika terbaru menunjukkan arah angin yang berbeda. Langkah-langkah dan pernyataan terkini dari Mama Yasinta memicu gelombang tanya, kekecewaan, sekaligus pembelaan. Sang pejuang yang dulunya berdiri di baris depan penolakan, kini dinilai terkesan “berbalik arah” dan berkompromi dengan proyek yang dulu ia lawan.

​Bagaimana transformasi ini bisa terjadi, dan mengapa hal ini membelah opini publik?

​Garis Depan yang Kini Memudar

​Pada awal kemunculannya, Mama Yasinta adalah representasi dari pertahanan terakhir masyarakat adat. Dengan noken di pundak dan keberanian di dada, ia menyuarakan jeritan rahim bumi Papua yang terancam dikonversi menjadi lahan industri berskala besar atas nama PSN. Bagi masyarakat lokal, kehadiran proyek raksasa sering kali berarti satu hal: hilangnya hutan sagu, rusaknya tempat keramat, dan marginalisasi penduduk asli.

​Namun, belakangan ini, sikap Mama Yasinta dinilai mengalami pergeseran dramatis. Kehadirannya dalam beberapa pertemuan formal dengan pihak korporasi atau inisiator proyek, hingga pernyataan yang cenderung melunakkan kritik, memicu spekulasi panas. Bagi sebagian pihak, Mama Yasinta yang sekarang terkesan bertolak belakang dengan cita-cita perjuangan awalnya.

​Pro dan Kontra: Sudut Pandang yang Membelah

​Perubahan sikap ini memicu perdebatan sengit di kalangan aktivis, akademisi, hingga masyarakat adat itu sendiri.

​1. Sisi Kontra: Kekecewaan dan Tudingan “Kompromi”

​Bagi kelompok yang kecewa—terutama sesama pejuang lingkungan dan generasi muda Papua—langkah Mama Yasinta dianggap sebagai pukulan telak bagi gerakan moral.

  • ​Pelemahan Gerakan: Mundurnya atau melunaknya tokoh kunci seperti Mama Yasinta dikhawatirkan akan memecah solidaritas warga di akar rumput.
  • ​Tudingan Kooptasi: Ada kecurigaan bahwa ia telah terkooptasi oleh kepentingan elite atau terjebak dalam janji-janji kompensasi jangka pendek yang ditawarkan oleh pelaksana proyek.
  • ​Kehilangan Simbol Perlawanan: Banyak yang merasa kehilangan sosok “Ibu” yang selama ini menjadi tameng hukum dan moral mereka di lapangan.
BACA JUGA :  Ratusan Orang Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi” di Uniska Adyaksa Soroti Papua, Demokrasi, dan Kolonialisme Modern

​2. Sisi Pro: Realisme Politik dan Strategi Diplomasi

​Di sisi lain, tidak sedikit pula yang mencoba memahami posisi Mama Yasinta secara lebih objektif dan realistis.

  • ​Strategi “Mengubah dari Dalam”: Pendukungnya menilai bahwa konfrontasi terus-menerus sering kali berujung pada jalan buntu atau represi. Mengambil posisi di meja perundingan dianggap sebagai strategi pragmatis untuk memastikan masyarakat adat tetap mendapatkan hak kemitraan, ganti rugi yang layak, atau proteksi wilayah sakral yang tersisa.
  • ​Kelelahan Berjuang & Tekanan: Berdiri melawan proyek negara memiliki konsekuensi psikologis, fisik, dan ekonomi yang luar biasa. Publik sering kali menuntut konsistensi mutlak tanpa memikirkan beban berat yang dipikul oleh seorang individu secara personal.
  • ​Pembangunan yang Tak Terbendung: Ada pandangan bahwa ketika PSN sudah tidak bisa dihentikan secara hukum, opsi terbaik adalah mengawal implementasinya agar tidak sepenuhnya merugikan masyarakat lokal.

​Dilema Klasik Pejuang Akar Rumput

​”Apakah berkompromi berarti berkhianat, ataukah itu sekadar cara bertahan hidup ketika tembok yang dilawan terlalu kokoh?”

​Kisah Mama Yasinta adalah potret dilema klasik yang dihadapi oleh banyak aktivis lingkungan di daerah konflik agraria. Ketika berhadapan dengan raksasa bernama “Pembangunan Nasional”, pilihannya sering kali tidak hitam-white. Garis batas antara diplomasi taktis dan kepasrahan menjadi sangat tipis.

​Bagaimanapun juga, sejarah akan mencatat dua babak dari perjalanan Mama Yasinta: babak ketika ia menyalakan api perlawanan, dan babak ketika ia memilih jalan berliku di tengah pusaran kompromi.

​Menatap Masa Depan Ruang Hidup Papua

​Perdebatan mengenai sikap Mama Yasinta memberikan satu pelajaran penting: perjuangan mempertahankan tanah Papua tidak boleh digantungkan pada satu figur semata. Ketika satu ikon meredup atau memilih jalan lain, sistem kolektif masyarakat adat harus tetap berjalan.

​Apakah langkah terbaru Mama Yasinta ini akan membawa berkah berupa perlindungan hak yang lebih taktis, atau justru menjadi legitimasi bagi hilangnya ruang hidup masyarakat adat? Waktu dan bentang alam Papua yang akan menjadi saksi bisunya.