KBK.News, MARTAPURA – Dugaan kasus pelecehan seksual jalanan kembali menghantui kaum perempuan di Kabupaten Banjar. Setelah seorang santriwati berusia 19 tahun menjadi korban begal payudara di kawasan Sungai Sipai, Martapura, kini muncul laporan serupa yang beredar luas di media sosial.

Sebuah video yang diunggah akun Instagram @peristiwabanua memperlihatkan seorang pria yang diduga pelaku pelecehan seksual meninggalkan lokasi kejadian menggunakan sepeda motor. Dalam keterangan unggahan tersebut disebutkan seorang perempuan nyaris menjadi korban begal payudara.

Berdasarkan informasi yang beredar, pelaku diduga sempat melakukan tindakan tidak senonoh dengan menyentuh bagian tubuh belakang korban sebelum melarikan diri dari lokasi.

Munculnya laporan baru ini menambah keresahan masyarakat, khususnya kaum perempuan yang setiap hari beraktivitas di jalanan. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya, seorang santriwati berusia 19 tahun juga menjadi korban pelecehan seksual jalanan saat berangkat bekerja.

Peristiwa yang menimpa santriwati tersebut terjadi pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 05.45 WITA di kawasan pertigaan Sungai Sipai, Martapura.

Saat itu korban tengah mengendarai sepeda motor menuju tempat kerjanya usai melaksanakan salat Subuh. Namun tanpa diduga, seorang pria yang mengendarai sepeda motor Yamaha N-Max warna hitam mendekatinya.

Kakak korban, MF, mengungkapkan bahwa pelaku tiba-tiba memepet kendaraan adiknya sebelum melancarkan aksi pelecehan.

“Pas di lokasi, adik saya dipepet seorang pria yang mengendarai motor Yamaha N-Max warna hitam. Pelaku kemudian melancarkan aksinya,” ujarnya.

Korban yang terkejut langsung berteriak meminta pertolongan. Sementara pelaku dengan cepat melarikan diri ke arah Banjarbaru.

BACA JUGA :  Qoriah Asal Martapura Ini Akan Wakili Indonesia Pada MTQ Internasional di Iran

Menurut MF, dampak yang dialami adiknya bukan hanya secara fisik, tetapi juga psikologis. Trauma yang dirasakan membuat korban sempat enggan keluar rumah dan menolak kembali ke pondok pesantren.

“Adik saya sempat tidak mau berangkat sekolah ke pesantren. Untuk keluar rumah saja dia merasa sangat ketakutan,” katanya.

Saat kejadian, korban diketahui mengenakan pakaian yang tertutup berupa gamis, blazer, dan kerudung. Keluarga kemudian membawa korban untuk mendapatkan pendampingan psikologis guna membantu proses pemulihan trauma.

Beruntung, kondisi korban kini mulai menunjukkan perkembangan positif setelah mendapatkan penanganan.

“Alhamdulillah setelah ke psikolog dia sudah bisa tersenyum. Meskipun untuk sementara dia berhenti bekerja karena masih ada rasa khawatir,” ungkap MF.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Banjar dan saat ini masih dalam penanganan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Kanit PPA Polres Banjar, Ipda Ibnu Ismanto, mengimbau masyarakat yang menjadi korban pelecehan seksual jalanan agar berupaya mengingat ciri-ciri pelaku sesaat setelah kejadian.

Menurutnya, informasi sekecil apa pun dapat menjadi petunjuk penting bagi penyidik dalam mengungkap identitas pelaku.

“Ketika ada kejadian, korban diharapkan dapat mengingat ciri-ciri pelaku, baik pakaian, warna kulit, fisik, helm maupun sepeda motor yang digunakan. Jika memungkinkan dan dalam kondisi aman, bisa juga merekam pelaku atau mengingat nomor polisi kendaraannya,” ujar Ibnu.

Ia menegaskan bahwa setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti melalui proses penyelidikan lebih lanjut.