KBK.NEWS, MARTAPURA – Ratusan massa yang tergabung dalam Sahabat Anti Kecurangan Bersatu (SAKUTU) memadati halaman Kantor DPRD Kabupaten Banjar, Kamis (18/6/2026). Aksi damai tersebut digelar sebagai bentuk dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat.

Massa datang dengan membawa berbagai spanduk dan poster dukungan terhadap program MBG. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan ketat aparat gabungan dari Polri dan TNI guna memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif.

Koordinator aksi, Aliansyah, menegaskan bahwa kehadiran mereka merupakan bentuk aspirasi masyarakat Kabupaten Banjar yang mendukung program-program pemerintah yang dinilai berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

“Hari ini rakyat di Kabupaten Banjar menyampaikan aspirasi terkait dukungan bahwa program-program pemerintah yang tujuannya untuk menyejahterakan rakyat, untuk meningkatkan gizi rakyat, itu harus diteruskan dan dilanjutkan,” ujarnya di hadapan peserta aksi.

Menurut Aliansyah, apabila ditemukan oknum atau pihak tertentu yang menyalahgunakan program tersebut, maka proses hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

BACA JUGA :  Kadisdik Barabai Apresiasi Uji Coba MBG yang Diprakarsai Kodim 1002/HST

“Terkait adanya oknum atau pihak-pihak yang menyalahgunakan program tersebut, kita minta itu diadili, kalau perlu dihukum,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan terhadap kebijakan pemerintah tetap disampaikan melalui cara-cara yang santun dan sesuai norma yang berlaku.

“Kita minta mereka yang tidak setuju dengan program pemerintah menyampaikan pendapat dengan cara-cara yang beradab. Kalau penyampaian aspirasi sudah tidak beradab dan tidak bermoral, maka itu tidak baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Aliansyah menilai masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan budaya ketimuran dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.

“Kepada pihak-pihak yang tidak suka atau tidak setuju dengan program pemerintah, silakan menunggu momentum demokrasi pada pemilu yang akan datang. Tidak perlu mencaci maki kepala negara dengan cara-cara yang barbar dan tidak beradab. Itu tidak mencerminkan budaya ketimuran kita. Kita di Indonesia masih menjunjung tinggi etika,” tutupnya.