Panen Cabai di Cindai Alus, TMI Banjar Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan untuk Petani
KBK.News, MARTAPURA – Potensi sektor hortikultura di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya terlihat dari produktivitas Kelompok Tani Budi Luhur di Desa Cindai Alus yang mengembangkan puluhan hektare lahan untuk tanaman cabai dan berbagai jenis sayuran.
Potensi tersebut mendapat perhatian saat kegiatan panen cabai bersama yang dihadiri Pejabat Swasembada Pangan Kalimantan Selatan, Dr. Fredy, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Banjar Hj Helda Rina, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Warsita, serta jajaran penyuluh pertanian.
Dr. Fredy menilai keberhasilan petani di kawasan tersebut memperlihatkan bahwa Kabupaten Banjar memiliki kantong-kantong produksi hortikultura yang potensial untuk terus dikembangkan.
Keberadaan sentra produksi ini dinilai penting, bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, tetapi juga membantu pemerintah menjaga ketersediaan pasokan serta stabilitas harga komoditas pangan.
“Cabai dan bawang merah merupakan komoditas yang selalu berkaitan dengan inflasi di setiap daerah. Ini menjadi bukti tindak lanjut arahan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertanian bagaimana petani bisa sejahtera melalui peningkatan produksi sekaligus mendukung pengendalian inflasi,” ujar Fredy.
Di kawasan tersebut, sedikitnya sekitar 25 hektare lahan dimanfaatkan untuk tanaman cabai. Sementara secara keseluruhan, luas lahan hortikultura mencapai sekitar 50 hektare dengan beragam jenis sayuran yang dibudidayakan menyesuaikan kebutuhan pasar.
Peluang pasar hasil pertanian ini pun dinilai semakin terbuka. Selain memenuhi kebutuhan pasar tradisional, hasil panen petani mulai diarahkan untuk menyuplai kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fredy menyebut sektor agribisnis hortikultura memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan bagi masyarakat. Terlebih, harga cabai di tingkat panen masih berada pada kisaran Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
“Ini menunjukkan agribisnis hortikultura sangat menjanjikan. Harga cabai saat panen masih berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, sehingga memberikan keuntungan yang baik bagi petani,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Banjar, Hj Helda Rina, memberikan apresiasi terhadap produktivitas Kelompok Tani Budi Luhur. Menurutnya, petani setempat mampu menghasilkan cabai berkualitas meskipun proses budidaya masih banyak dilakukan secara manual.
Dalam kunjungan tersebut, pihaknya juga menyerap sejumlah aspirasi yang disampaikan petani. Beberapa kebutuhan yang dinilai masih diperlukan di antaranya dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan), pembangunan jalan usaha tani hingga peningkatan jaringan irigasi.
“Kami dari Tani Merdeka Indonesia siap menjadi jembatan antara petani dan pemerintah agar berbagai kebutuhan petani bisa mendapat perhatian,” ujar Helda Rina yang juga Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Banjar.
Ia berharap perhatian terhadap sektor pertanian dapat terus ditingkatkan, terlebih para petani kini menghadapi tantangan musim kemarau yang juga dibayangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi perpanjangan tangan para petani ke pemerintah daerah maupun pusat. Semoga dengan terjalinnya kerja sama yang baik selama ini, perlahan kita bisa membantu kebutuhan para petani satu per satu,” ucapnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, memastikan pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan terhadap kelompok tani, khususnya berkaitan dengan kebutuhan sarana dan prasarana penunjang pertanian.
Persoalan jaringan irigasi, menurut Warsita, menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mencari solusi terhadap kebutuhan pengairan di kawasan tersebut.
“Kami akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai terkait pengairan. Dengan pemanfaatan lahan yang semakin intensif, kami optimistis potensi karhutla juga bisa ditekan,” jelasnya.
Menghadapi puncak musim kemarau, Warsita juga meminta petani mengoptimalkan pompa air yang telah tersedia. Jika kebutuhan pompa masih belum mencukupi, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar siap meminjamkan pompa milik Brigade Dinas untuk membantu pengairan lahan pertanian.
“Laporkan segera kepada penyuluh atau dinas apabila terjadi kekeringan, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin,” pungkasnya.
