KBK.NEWS JAKARTA – Bagaimana ekonomi Indonesia sekarang ini, apakah sedang tumbuh atau sedang menuju kebangkrutan sistemik dan itu menjadi sorotan pengamat  Mardigu Wowiek Prasantyo (Bossman) yang juga seorang pengusaha, penulis, dan content creator asal Indonesia. 

Dalam pekan ini persoalan penerimaan pajak atau pemungutan pajak terhadap wajib pajak yang akan melibatkan TNI dan Polri mendapat sorotan luas publik. Hal itu menuai banyak kritik dari berbagai kalangan termasuk juga para pengamat.

Bossman Mardigu Salah seorang pengamat menilai soal pelibatan TNI dan Polri itu membuat rakyat panas. Namun untuk itu ia menjelaskan tentang ekonomi Indonesia sekarang yang tidak bisa disebut sedang tumbuh, bahkan sebaliknya menuju kebangkrutan.

Menurutnya Indonesia sedang dihantam triple defisit yang ia ibaratkan ada tiga kebocoran sekaligus pada satu kapal.

“Bocor pertama, defisit fiskal. Baru juga triwulan pertama, anggaran kita (Indonesia) sudah tekor Rp 240 triliun rupiah. Itu artinya hampir 1% dari seluruh PDB Indonesia lenyap untuk nutupin pengeluaran yang gak jelas.

Ia juga menyebutkan yang kedua yakni defisit pendapatan, bahwa pendapatan negara sangat kecil atau cekak akibat belanja ini dan itu, seperti proyek kosmetik. Ia mencontohkan program bagi -bagi bantuan sosial (Bansos) yang ia tuding demi suara (Pemilu 2029), tetapi tidak punya anggaran alias kantong kosong yang ujung – ujungnya ngutang lagi.

BACA JUGA :  Gubernur Kalsel Ingatkan Kepala Desa Agar Kelola Dana Desa Dengan Benar

“Ujung-ujungnya apa? Utang lagi. Rakyat dipalak pajak. Bocor kedua, defisit. Neraca perdagangan. Dulu kita bangga jadi negara kaya alam. Sekarang kita jadi negara pemakan barang import. Ekspor kita cuma 23,2 miliar dolar tapi importnya jebol sampai 24,8 miliar dolar,” bebernya.

Kenapa bisa tekor? beber Mardigu, karena Indonesia kecanduan beli minyak dari luar negeri. Ketika harga minyak dunia melonjak, APBN langsung menggap-menggap. Pertanyaannya, kemana puluhan tahun program kemandirian energi yang selalu dipidatokan itu? Zonk.

“Cuma jadi slogan jualan pemilu setiap lima tahunan. Bocor ketiga, dan ini yang paling bikin merinding. Defisit neraca pembayaran, khususnya dari aliran modal dan finansial. Catat angkanya, tekor 493 miliar dolar Amerika,” tegasnya.