MARTAPURA, KBK.News – Di tengah kondisi kemarau dan ancaman El Nino, petani di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), tetap menunjukkan optimisme menjaga produksi pangan.

Hal itu terlihat dalam kegiatan panen padi bersama di Kelompok Tani Harapan Bersama, Desa Penggalaman, Rabu (12/8/2026).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan panen tersebut menjadi bukti bahwa sektor pertanian Kalsel tetap berjalan meski menghadapi kondisi cuaca kering.

“Alhamdulillah, hari ini kita panen padi Inpari 32 di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Dalam kondisi El Nino, Kalimantan Selatan masih bisa panen,” ujar Syamsir.

Menurutnya, hingga Agustus 2026 produksi padi Kalsel telah mencapai sekitar 670 ribu ton. Produksi tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena panen terus berlangsung hingga September.

Syamsir juga mengapresiasi langkah kelompok tani yang memilih kembali mengolah lahan setelah panen untuk kemudian melakukan penanaman berikutnya.

“Setelah panen ini kelompok tani sudah sepakat untuk kembali melakukan olah tanah dan menanam. Jadi tidak berhenti, tanam, panen, tanam, panen,” katanya.

Ia menyebut keberhasilan petani Penggalaman tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari penyuluh pertanian, pemerintah desa, Dinas Pertanian kabupaten, pengelola tata kelola air hingga petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT).

Syamsir mengungkapkan, sebelumnya sebagian lahan di wilayah tersebut sempat mengalami serangan penyakit tungro yang membuat petani kesulitan mendapatkan hasil panen.

Namun, melalui pendampingan dan pengawalan petugas pertanian, kondisi tersebut perlahan dapat diatasi.

“Dulu mereka mukanya merengut dan masam karena tidak bisa panen. Hari ini mukanya sudah senyum karena bisa panen,” ucapnya.

Syamsir menegaskan pemerintah akan terus mendorong petani agar tidak berhenti melakukan penanaman. Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk combine harvester, disebut menjadi salah satu upaya mempercepat proses panen.

Selain itu, Brigade Pangan juga disiapkan untuk membantu petani dalam proses pengolahan hingga penanaman kembali.

“Kalau menggunakan mekanisasi tidak bisa, mereka siap dengan manual. Tidak ada kata lain. Ini harga mati bagi kita untuk menjaga suasana pangan di Kalimantan Selatan dan Indonesia,” tegasnya.

Ia juga meminta petani mempersiapkan diri menghadapi puncak musim kemarau dengan memanfaatkan dan memelihara sumber air yang tersedia, termasuk sumur bor dan sumur pantek.

BACA JUGA :  Petani Banjar Tunda Cocok Tanam

Petani juga didorong menggunakan combine harvester saat panen. Menurutnya, pemotongan padi hingga bagian bawah dapat membantu mengurangi potensi sisa tanaman yang menjadi bahan mudah terbakar saat musim kemarau.

Di sisi lain, Syamsir menyebut harga gabah saat ini cukup menggembirakan bagi petani, yakni berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram.

“Kondisi harga hari ini sudah menggembirakan bagi para petani. Terima kasih kepada para petani. Maju terus pertanian Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Sementara itu, Pembakal Penggalaman Nur Ipansyah mengatakan panen bersama tersebut menjadi kabar baik bagi petani di desanya.

Menurutnya, hasil panen padi di Desa Penggalaman saat ini masih cukup bagus meski berlangsung dalam kondisi kemarau.

“Alhamdulillah, di suasana kering ini Desa Penggalaman masih bisa panen dan hasilnya masih bagus, sekitar enam ton per hektare,” kata Nur.

Ia menyebut sekitar 90 persen lahan pertanian di desanya masih mampu menghasilkan panen dengan baik. Sementara sekitar 10 persen lainnya mengalami kerusakan atau terdampak kekeringan.

Padi yang dipanen tersebut merupakan varietas unggul dengan masa tanam sekitar empat bulan.

Yang menarik, para petani tidak berniat berhenti setelah panen. Mereka justru berencana kembali menanam dalam waktu dekat.

“Setelah panen mau tanam lagi, langsung. Alhamdulillah,” ujarnya.

Nur menjelaskan, salah satu faktor yang membantu petani tetap melakukan aktivitas pertanian adalah ketersediaan sumber air dari kawasan Riam Kanan serta sungai yang berada di sekitar desa.

Untuk memastikan suplai air tetap berjalan, masyarakat bersama kelompok tani juga melakukan pembersihan saluran drainase dan jaringan tersier.

“Air irigasi Riam Kanan bisa teraliri ke sini, dan sungai juga ada. Berkat drainase, kuarter dan tersier semuanya kami bersihkan, jadi kami bisa menyuplai air dari sungai ataupun dari irigasi,” jelasnya.

Panen tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa petani di Desa Penggalaman tetap berupaya menjaga keberlanjutan produksi pangan meski menghadapi tantangan musim kemarau.

Tanam, panen, dan kembali tanam menjadi semangat petani untuk menjaga ketahanan pangan Kalsel.