Kebakaran Lahan di Desa Bahandang Capai 50 Hektare, Api Mendekati Rumah Warga
KBK.News, MARABAHAN — Kebakaran lahan terjadi di Desa Bahandang, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Jumat (21/8/2026). Kebakaran yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar tersebut diperkirakan telah melalap lahan sekitar 50 hektare.
Ketua RT 04 Desa Bahandang, Slamet, mengatakan kebakaran di lokasi tersebut baru terjadi pada Jumat pagi setelah waktu subuh. Menurutnya, api berasal dari lahan di seberang dan kemudian terbawa angin kencang hingga berpindah serta menjalar ke area lainnya.
“Ini baru saja, baru pagi tadi. Api dari seberang, kemudian terkena angin kencang sehingga seperti terbang dan berpindah ke sini. Subuh tadi baru terlihat di tengah, kemudian mulai menjalar,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, kobaran api mulai mendekati permukiman warga. Kondisi lahan yang memiliki parit-parit kering juga menjadi salah satu kendala dalam upaya pemadaman.
“Ini sudah menjangkau rumah,” katanya.
Untuk mencegah api semakin meluas dan mendekati rumah warga, personel Ditsamapta Polres Barito Kuala turut melakukan pemadaman sejak siang hari. Petugas berupaya mengurangi sebaran api dan mengendalikan kobaran agar tidak mencapai permukiman.
Slamet menyebut upaya penanganan kebakaran sebelumnya juga pernah melibatkan helikopter untuk melakukan water bombing di sekitar kawasan tersebut.
“Pernah, kemarin helikopter melakukan water bombing di sekitar situ dan berlangsung seharian,” ujarnya.
Slamet memperkirakan luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 50 hektare. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan karena proses pemadaman dan pendataan masih berlangsung.
“Sekitar 50 hektare, kira-kira segitu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan kawasan tersebut juga berbatasan dengan lahan transmigrasi yang diperkirakan memiliki luas sekitar 500 hektare. Saat ini, api disebut masih melalap lahan kampung dan dikhawatirkan dapat terus menjalar apabila tidak segera dikendalikan.
Kekhawatiran juga muncul karena terdapat satu rumah yang berada di tengah kawasan tersebut. Slamet menyebut rumah itu dihuni keluarga yang memiliki anak-anak.
“Ada satu rumah di tengah. Kasihan juga karena ada anak-anak kecil. Mungkin sebaiknya mengungsi dulu karena lokasinya dekat,” katanya.
Selain kobaran api, asap tebal juga dirasakan warga. Slamet mengatakan kondisi pada pagi hari cukup mengganggu jarak pandang dan pernapasan.
“Kalau pagi, jalan saja tidak kelihatan. Napas juga terasa terganggu karena kabut dan asap dari api,” ujarnya. (Masruni)
















