KBK.NEWS JAKARTA – Pemerintah mencatat penurunan rata-rata produksi batu bara nasional sebesar 8 juta ton per bulan sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2026. Penurunan ini terjadi seiring penataan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih ketat untuk mengendalikan pasokan pasar.

​Data hingga Juli 2026 menunjukkan total output batu bara Indonesia mencapai 423 juta ton, atau berada di kisaran 60 juta ton per bulan. Dari angka akumulatif tersebut, sebanyak 270 juta ton dialokasikan untuk memenuhi pasar ekspor—dengan Tiongkok dan India sebagai tujuan utama—sementara 113 juta ton diserap pasar domestik, dan sisanya disimpan sebagai cadangan.

​Meski volume penambangan menyusut, setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor ini justru mencatatkan tren positif.

​Per 31 Agustus 2026, realisasi PNBP batu bara menembus Rp 66 triliun. Angka ini meningkat Rp 7 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan Rp 59 triliun. Artinya, penerimaan negara tumbuh sekitar Rp 1 triliun setiap bulannya di tengah penurunan volume produksi.

BACA JUGA :  Pemkab HSS Minta PT AGM Capai Target Agar Tidak Cemari Sungai Amandit

​”Secara produksi bulanan kita memang turun 8 juta ton, tetapi PNBP kita justru naik Rp 7 triliun,” ujar Tri dalam peringatan 36 Tahun Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo, Kamis (10/9/2026).

​Hingga penutupan tahun 2026, total produksi batu bara nasional diproyeksikan berada pada rentang 720 juta hingga 722 juta ton, dengan asumsi rata-rata output bulanan konsisten di angka 60 juta ton.

Strategi Pengendalian Harga

​Langkah pemangkasan target produksi dalam RKAB 2026 sengaja diambil pemerintah untuk menjaga keseimbangan harga batu bara di pasar global agar tidak terdepresiasi lebih dalam.

​Pemerintah sebelumnya telah menetapkan porsi volume RKAB 2026 berada di kisaran 600 juta ton. Besaran pasti target nasional ini terus disesuaikan dengan dinamika permintaan dalam negeri, terutama untuk mengamankan pasokan pembangkit listrik milik PLN.

Sumber : Bloomberg