KBK. News, BANJARBARU – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar di langit Kalimantan Selatan dalam sepekan terakhir dinilai belum memberikan dampak signifikan di lapangan.

Faktanya, hawa panas ekstrem dan kabut asap pekat masih menyelimuti sebagian besar wilayah Banua pada pagi hari. Kondisi ini memicu pertanyaan di tengah masyarakat mengenai efektivitas proyek hujan buatan tersebut.

Kondisi empiris inilah yang disoroti tajam oleh Ketua Organisasi Rakyat Indonesia (ORI) Provinsi Kalimantan Selatan, Sulkan.

Ia menekankan ada jarak lebar antara klaim keberhasilan teknis dengan hasil riil yang dirasakan warga.

“Faktanya, hawa panas dan kabut asap pekat masih menyelimuti wilayah Kalimantan Selatan. Hingga hari ini, belum semua wilayah menikmati dampak positif dari proyek tersebut.

Realitas ini menunjukkan bahwa program rekayasa hujan yang dijalankan belum berdampak signifikan mengurangi ancaman kabut asap di darat,” ungkap Sulkan dalam pernyataan resminya di Banjarbaru, Sabtu (12/09/2026)

Berdasarkan situasi lapangan tersebut, Sulkan menilai wajar jika muncul desakan kuat dari masyarakat. Ketidakmerataan dampak operasi ini memicu kebutuhan mendesak akan transparansi dan akuntabilitas dari penyelenggara proyek.

“Ketika dampak riil di lapangan belum dirasakan merata oleh masyarakat yang setiap hari menghirup asap, maka tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas proyek rekayasa hujan adalah suatu keniscayaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sulkan mengingatkan jika publik tidak mendapat akses informasi yang layak dan komprehensif mengenai capaian riil di setiap sorti penerbangan, maka kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan penanganan bencana dikhawatirkan menurun.

BACA JUGA :  TNI AU Kerahkan Tiga Pesawat Casa NC-212 Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca Karhutla di Kalimantan

Hal ini seiring meningkatnya kecurigaan terkait efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran negara.

Secara khusus, ORI Kalsel memberi peringatan keras agar alokasi dana penanggulangan karhutla benar-benar difokuskan pada operasi teknis penyelamatan lingkungan, bukan untuk kegiatan pelengkap bersifat seremonial.

“Jangan sampai terjadi inefisiensi anggaran proyek untuk hal-hal yang hanya bersifat formal seremonial.

Setiap rupiah anggaran harus turun menjadi hujan dan memadamkan api, bukan habis untuk seremonial atau sekadar formalitas laporan di atas kertas,” cetus Sulkan.

Secara teknis, rekayasa cuaca yang digelar sejak awal September memang diklaim memicu hujan di sebagian wilayah Banua Anam dan pesisir.

Namun, kawasan krusial seperti ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor dan lahan gambut dalam di sekitar Banjarbakula dinilai masih minim guyuran hujan berintensitas tinggi.

Satgas Karhutla sebelumnya menyatakan keberhasilan penyemaian garam sangat bergantung pada kondisi vegetasi awan potensial yang melintas di atmosfer.

Bagi ORI Kalsel, kendala atmosfer tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi ruang informasi publik.

Momentum instruksi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka saat meninjau Pos Pantau Karhutla di Banjarbaru baru-baru ini, yang meminta optimalisasi rekayasa cuaca, harus dijawab dengan manajemen informasi yang akuntabel.

“Masyarakat Kalsel saat ini tidak hanya menuntut hak dasar untuk kembali menghirup udara bersih, tetapi juga hak untuk memastikan bahwa setiap program penanggulangan bencana dikelola secara efektif, efisien, dan bertanggung-jawab,” pungkas Sulkan.