KBK.News, BANJARMASIN– Kecelakaan maut terjadi di kawasan Jalan A Yani Km 27, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, tepat di depan Bandara Syamsudin Noor, Senin (14/9/2026) pagi.

Kecelakaan tersebut melibatkan Bus Tayo milik Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kalimantan Selatan dengan sepeda motor yang dikendarai seorang pelajar SMA.

Dalam kecelakaan tersebut, pelajar SMA yang tengah menuju sekolah dilaporkan meninggal dunia.

Bus Tayo yang identik dengan warna hijau terlihat berhenti di badan jalan setelah terlibat kecelakaan. Sementara pengemudi bus terlihat berjalan menuju bagian belakang kendaraan.

Kecelakaan maut tersebut mendapat perhatian dari Kepala Dishub Provinsi Kalsel M Fitri Hernadie.

Kepada awak media, Fitri mengatakan pihaknya langsung meminta operator Bus Tayo melakukan pengecekan terhadap kejadian tersebut, termasuk rekaman CCTV dan sarana keselamatan yang ada pada bus.

“Jadi memang media sosial lebih cepat lah memang daripada birokrasi kita. Jadi begitu melihat saya sudah mintakan kepada operator untuk menyampaikan cek CCTV dan seluruh sarana keselamatan yang ada di bus itu seperti apa ceritanya,” terang Fitri.

Menurutnya, hasil pengecekan tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti dan dilaporkan kepada pihak kepolisian agar kejadian tersebut menjadi perhatian.

“Jadi betul laka bus Tayo itu korbannya meninggal dunia, pelajar SMA yang sedang menuju ke sekolah.

Mudah-mudahan yang bersangkutan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Kita doakan mudah-mudahan ini jangan berulang lagi,” harap Kadishub Kalsel.

Terkait kemungkinan sanksi terhadap pengemudi maupun operator, Fitri mengatakan pihaknya masih menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan terhadap kejadian tersebut.

Dia menjelaskan, selama ini para sopir Bus Tayo direkrut melalui pihak ketiga, di antaranya berasal dari Organda maupun warga lokal.

BACA JUGA :  Laka Maut di Bundaran Liang Anggang, Mobil Polisi dan Motor Terlibat Tabrakan

Para pengemudi tersebut, menurutnya, terus dievaluasi terkait kinerja dan keselamatan dalam menjalankan tugas.

“Ya dari operator, jadi para driver ini direkrut ada yang dari Organda maupun warga lokal. Kita berharap mereka selalu dievaluasi, karena selama ini selalu terjadi perkembangan. Jadi misalnya kalau ada kesalahan pasti akan diberikan sanksi, kalau memang bagus akan diberikan reward. Dan kita pantau itu terus,” ujarnya.

Fitri juga menyampaikan bahwa tingkat keterisian atau loading factor Bus Tayo saat ini telah mencapai sekitar 97 persen.

Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dievaluasi terutama pada jam-jam sibuk pagi, siang hingga menjelang malam.

Pada jam berangkat dan pulang kerja, pengaturan tersebut diharapkan dapat mengurangi waktu tunggu penumpang yang selama ini terkadang harus menunggu hingga tiga kali headway.

Selain menunggu hasil pemeriksaan kecelakaan, Fitri mengimbau masyarakat pengguna jalan agar lebih berhati-hati ketika berada di sekitar bus berukuran besar.

“Angkutan umum ini memang berbodi besar, kemudian blind spot-nya banyak. Sehingga hindari blind spot yang ada di bus,” imbaunya.

Ia juga meminta pengendara yang hendak mendahului bus agar memberikan tanda dengan klakson maupun lampu kendaraan sehingga dapat diketahui pengemudi bus, terutama ketika bus hendak berbelok atau masuk ke halte.

“Kalau ingin membalap, kasih klakson dan berikan lampu supaya driver juga melihat kalau ada orang, misalnya pada saat dia akan membelok di halte.

Maksudnya itu supaya melihat ada pengguna jalan lain di sebelah kiri, sehingga tidak tiba-tiba membelok,” pungkasnya.