KBK.NEWS MARTAPURA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kabupaten Banjar pada Senin (14/9/2026) dan berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Banjar hingga pukul 15.40 WITA, terdeteksi sebanyak 22 titik api.

Titik api tersebut tersebar di lima kecamatan, yakni Martapura, Gambut, Sungai Tabuk, Martapura Barat, dan Karang Intan. Wilayah Martapura dan Gambut tercatat menjadi area dengan sebaran titik api terbanyak sepanjang hari.

​Laporan kemunculan api pertama kali diterima petugas pada pukul 09.42 WITA di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura. Laporan tersebut terus bertambah hingga sore hari, dengan insiden terakhir tercatat pada pukul 15.37 WITA di Desa Jingah Habang Ulu, Kecamatan Karang Intan.

​Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengonfirmasi bahwa sebagian besar titik api telah berhasil dikendalikan oleh tim gabungan. Penanganan di lapangan mengandalkan armada kendaraan tangki dan pikap berpenampung air.

​”Sejumlah titik berhasil ditangani petugas maupun relawan dan dinyatakan aman. Penanganan dilakukan menggunakan unit pemadam, termasuk kendaraan tangki dan unit pikap dengan tandon,” kata Wasis.

​Wasis menambahkan, upaya pemadaman di lapangan sering kali terkendala oleh medan yang sulit dijangkau dan terbatasnya sumber air. Meski demikian, sinergi antara BPBD, TNI, Polri, BUSER 690, serta para relawan membuat dampak karhutla dapat diminimalisasi. Ia juga menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.

BACA JUGA :  Tunjangan Turun Drastis, Hilangnya Fasilitas Mobil! Eks Kadinsos Banjar Dian Marliana Ajukan Keberatan

​Kondisi medan yang sulit salah satunya dirasakan oleh organisasi kemanusiaan Relawan Aksi Karang Intan Aranio Tanggapp (RAKAT) saat memadamkan api di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan. Anggota RAKAT, Muhammad Azim, menjelaskan bahwa timnya harus menerapkan metode pemadaman secara estafet bersama warga sekitar karena minimnya pasokan air dan lokasi kebakaran yang kian mendekati pemukiman.

​”Penanganan karhutla ini kami lakukan bersama rekanan dan warga sekitar dengan sistem estafet karena jauhnya sumber air, terlebih lahan yang terbakar sudah mendekati pemukiman warga,” ujar Azim.

​Proses pemadaman di Desa Sungai Landas memakan waktu lebih dari empat jam. Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melanjutkan proses pembasahan (cooling down) untuk memastikan tidak ada sisa bara yang berpotensi memicu kebakaran susulan.