LIMA ABAD BANJARMASIN: SAATNYA MERAYAKAN KOTA DENGAN KERJA NYATA
LIMA ABAD BANJARMASIN: SAATNYA MERAYAKAN KOTA DENGAN KERJA NYATA
Oleh: Ir. H. Sukhrowardi, MAP (Aktivis ’90 / Anggota DPRD Kota Banjarmasin 2019–2024)
Pada 24 September 2026, Banjarmasin genap berusia 500 tahun. Perjalanan lima abad ini menegaskan posisinya sebagai simpul sejarah, budaya, dan perdagangan berbasis sungai di Kalimantan Selatan. Keputusan Pemerintah Kota Banjarmasin untuk meniadakan perayaan hiburan di tengah bencana kabut asap, kekeringan, hingga musibah KM Virgo Transport 8 merupakan langkah bijak yang berempati. Momentum ini harus dialihkan dari seremoni pesta menjadi gerakan nyata pembangunan kota.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Muhammad Yamin HR dan Wakil Wali Kota Hj. Ananda, Banjarmasin menghadapi ujian besar yang memerlukan solusi sistemis dan kolaboratif.
Sektor Prioritas dan Langkah Strategis
- Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan moral. Diperlukan reformasi sistemik: transformasi TPA Basirih menjadi fasilitas pengolahan terpadu berbasis waste to energy, penguatan infrastruktur pengangkutan dan pemilahan, serta dukungan anggaran hingga tingkat RT. Efisiensi anggaran tidak boleh mengorbankan penanganan masalah mendasar ini.
- Penanganan Banjir dan Optimalisasi Sungai Selain normalisasi teknis seperti pengerukan Sungai Veteran dan Sungai Japri Zamzam, sungai harus dikembalikan fungsinya sebagai identitas ekonomi, pariwisata, dan ruang publik. Diperlukan penegakan aturan di sempadan sungai serta partisipasi aktif warga bantaran untuk menjaga kebersihan pascanormalisasi.
- Revitalisasi Pusat Perdagangan Penataan kawasan ekonomi seperti Pasar Antasari dan Mitra Plaza harus berfokus pada kenyamanan, keamanan, dan integrasi antara pasar tradisional dengan pusat modern. Pelibatan sektor usaha dalam promo Hari Jadi dapat mendorong dampak ekonomi langsung bagi masyarakat dan UMKM.
- Penguatan Perguruan Tinggi sebagai Partner Strategis Potensi akademis seperti Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan UIN Antasari harus dimanfaatkan secara optimal. Kampus perlu dijadikan mitra riset dalam formulasi kebijakan tata ruang, digitalisasi layanan publik, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis kelurahan.
- Pengembangan Kawasan Pelabuhan Trisakti Sebagai pintu gerbang ekonomi dan jasa, kawasan Pelabuhan Trisakti memerlukan penataan komprehensif terkait akses lalu lintas, perparkiran, dan zona pergudangan agar memiliki daya saing setara dengan pelabuhan besar nasional.
Refleksi dan Gerakan Sosial
Peringatan 500 tahun harus dimaknai dengan memperkuat dimensi spiritual dan kepedulian sosial melalui doa bersama, bakti sosial, serta gerakan aksi lingkungan serentak di tempat ibadah.
Sesuai dengan semangat “Kawa Gawi Sabumi” (mampu bekerja bersama) dan prinsip “Kayuh Baimbai, Waja Sampai Kaputing”, penanganan kota membutuhkan kontrak sosial baru. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak bersama untuk memastikan Banjarmasin tetap layak dihuni, dibanggakan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
