KBK.news BANJARMASIN — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Antasari Banjarmasin menggelar aksi simbolik bertajuk September pada Kamis (24/9/2026). 

Aksi yang dimulai sekitar pukul 17.00 WITA tersebut diikuti lebih dari 50 mahasiswa dengan melakukan longmarch dari Kampus UIN Antasari menuju kawasan bawah fly over Banjarmasin.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah spanduk dan poster yang memuat pesan terkait persoalan kemanusiaan, lingkungan, dan isu daerah.

Beberapa tulisan yang dibawa di antaranya “Borneo Gawat Asap” dan “September Hitam, Bulan Penuh Nestapa.”

Puluhan peserta aksi juga mendapat pengawalan dari personel kepolisian di wilayah Banjarmasin selama kegiatan berlangsung. Pengawalan dilakukan saat massa bergerak dari kawasan kampus menuju lokasi aksi.

Aksi simbolik tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan refleksi terhadap berbagai persoalan hak asasi manusia (HAM), sekaligus merawat ingatan publik terhadap sejumlah peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu.

Mahasiswa juga menyampaikan solidaritas kepada para penyintas dan korban pelanggaran HAM.

Ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Antasari, Muhammad Karim, mengatakan September menjadi momentum untuk kembali mengingat berbagai persoalan HAM yang terjadi pada masa lalu.

“September menjadi momentum merawat ingatan pada pelanggaran HAM berat masa lalu,” ujar Muhammad Karim.

Sementara itu, Ketua DEMA Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Antasari, Muhammad Rafly, menekankan pentingnya menjaga ingatan publik terhadap persoalan hak asasi manusia.

Menurutnya, merawat ingatan tidak hanya berkaitan dengan mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa persoalan HAM masih menjadi perhatian di Indonesia.

“Merawat ingatan harus kita sadarkan, masih terjadi keadaan-keadaan hak asasi manusia di Indonesia,” katanya.

BACA JUGA :  KPU Kalsel Siap Menggelar Kampanye Pemilu 2024 di Lembaga Pendidikan

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap korban dan penyintas pelanggaran HAM.

“Kami dari seluruh DEMA UIN Antasari hadir merawat ingatan kepada masyarakat Kalimantan Selatan dan sebagai aksi solidaritas kepada penyintas HAM berat masa lalu,” ujarnya.

Ketua DEMA UIN Antasari, Sauki, turut menyoroti persoalan aktivis dan tuntutan keadilan. Ia menyebut berbagai peristiwa penculikan aktivis dan tuntutan keadilan perlu terus diingat oleh masyarakat.

“Pada bulan Agustus terjadi penculikan aktivis dan korban-korban menyerukan keadilan. Kami DEMA UIN Antasari berdiri tegak pada keadilan dan kebenaran, salah satunya menyoroti tahan politik pada aksi Agustus tahun lalu,” kata Sauki.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyanyikan lagu “Gugur Bunga” sebagai bentuk penghormatan dan refleksi terhadap para korban yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa.

Selain isu HAM, mahasiswa turut membawa sejumlah persoalan daerah dalam aksi tersebut. Ketua DEMA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Antasari, Baihaqi Maulana, menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, hingga persoalan pelayanan air bersih.

“Kami menyoroti isu daerah, karhutla, asap, PDAM mati, banyak isu daerah yang dianggap terlalu gelap pada bulan September ini,” ujar Baihaqi Maulana.

Melalui aksi simbolik tersebut, DEMA UIN Antasari menyampaikan sejumlah pesan mengenai pentingnya menjaga ingatan terhadap persoalan HAM, menunjukkan solidaritas kepada para penyintas, serta menyuarakan persoalan lingkungan dan pelayanan publik yang dirasakan masyarakat.

Aksi yang diikuti lebih dari 50 mahasiswa tersebut berlangsung dengan pengawalan personel kepolisian Banjarmasin. Massa membawa poster dan spanduk sembari melakukan longmarch menuju kawasan bawah fly over. (Masruni)