KBK.NEWS, ALUH-ALUH – Di tengah musim kemarau yang membuat sejumlah lahan persawahan di Desa Tanipah, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar mengering, muncul pemandangan berbeda yang justru menjadi hiburan bagi masyarakat, Rabu (30/9/2026).

Lahan persawahan yang biasanya tergenang air saat musim penghujan, dimanfaatkan warga menjadi lapangan sepak bola. Dari tempat sederhana tersebut, digelar Liga Amal Tanipah Cup 2026 yang mampu menarik ratusan penonton dari berbagai desa di Kecamatan Aluh-Aluh hingga Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Turnamen tersebut digelar oleh Anggota DPRD Kabupaten Banjar dari Fraksi PKS, Muhammad Saidi, bersama panitia dan sejumlah pihak pendukung.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak pertandingan berlangsung. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa memadati sekitar lapangan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola.

Tak hanya menjadi hiburan, keberadaan turnamen juga memberikan dampak bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah pelaku UMKM dan pedagang lokal memanfaatkan ramainya penonton dengan menjajakan makanan, minuman dan berbagai dagangan di sekitar lokasi pertandingan.

Sebanyak 26 tim mengikuti turnamen tersebut. Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Banjar, tetapi juga dari sejumlah daerah tetangga di Kalimantan Selatan, termasuk Kabupaten Barito Kuala dan Tanah Laut.

Pada partai final, klub asal tuan rumah Desa Tanipah berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan klub asal Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala.

Anggota DPRD Banjar Muhammad Saidi mengatakan, tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa olahraga, khususnya sepak bola, memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Aluh-Aluh.

“Antusias penonton luar biasa. Saya berterima kasih kepada kawan-kawan panitia yang luar biasa dari awal persiapan sampai akhir. Alhamdulillah berjalan lancar,” ujar Saidi.

Menurutnya, kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas olahraga yang representatif. Pasalnya, Kecamatan Aluh-Aluh hingga saat ini belum memiliki lapangan sepak bola yang dapat digunakan secara permanen.

“Walaupun tidak punya lapangan, tapi tetap mereka antusias olahraga untuk semua,” katanya.

Saidi berharap Pemerintah Kabupaten Banjar dapat memperhatikan kebutuhan fasilitas olahraga di wilayah daerah pemilihan (dapil) III, khususnya Kecamatan Aluh-Aluh.

Ia menyebut, pihaknya akan terus mendorong agar pembangunan lapangan sepak bola dapat direalisasikan di kawasan tersebut.

“Harapan saya atlet-atlet Kabupaten Banjar bisa berkembang, khususnya daerah Dapil 3 yang sampai saat ini tidak punya lapangan sepak bola. Khususnya Aluh-Aluh,” ujarnya.

Menurut Saidi, kondisi lapangan yang digunakan dalam turnamen tersebut sangat bergantung pada musim. Lapangan baru dapat dimanfaatkan ketika lahan persawahan mengering.

“Bayangkan, lapangan sepak bola ini terjadi karena ada kemarau. Apabila ada kemarau baru bisa ada pertandingan. Satu tahun pun bisa tidak terjadi,” tuturnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat menyediakan lapangan sepak bola permanen sehingga kegiatan olahraga masyarakat tidak lagi bergantung pada kondisi alam.

BACA JUGA :  35 KPM di Desa Simpang Warga Terima Bantuan Instalasi Hidroponik untuk Cegah Stunting

Selain mendorong olahraga, Saidi mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antarmasyarakat lintas desa.

Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadikan olahraga sebagai kegiatan positif sekaligus menjauhkan diri dari penyalahgunaan narkoba.

“Tujuan kita itu supaya hobi olahraga menjadi salah satu hal yang dominan di sini. Saya berharap narkoba di Aluh-Aluh tidak ada lagi. Bahkan di Dapil 3, no narkoba. Ayo olahraga,” tegasnya.

Uang Parkir dan Dagangan Disumbangkan ke Masjid

Menariknya, konsep turnamen ini tidak hanya mengedepankan kompetisi olahraga. Sesuai namanya, Liga Amal Tanipah Cup 2026 juga membawa misi sosial.

Saidi menyebut, sebagian pendapatan yang diperoleh selama kegiatan, termasuk dari parkir dan aktivitas masyarakat yang berjualan, akan disumbangkan untuk pembangunan atau kepentingan Masjid di Desa Tanipah.

“Penghasilan hari ini beberapa ada dari parkir, ada dari orang-orang jualan, itu semua kita sumbangkan ke masjid di Desa Tanipah,” jelasnya.

Untuk hadiah turnamen, Saidi menyebut terdapat dukungan dari sejumlah sponsor dan pihak yang peduli terhadap perkembangan olahraga di Kabupaten Banjar.

Sementara itu, Ketua Panitia Tanipah Cup 2026, Abdul Wahab, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah mengikuti turnamen, baik dari dalam maupun luar daerah.

Ia menyebut pelaksanaan turnamen berlangsung dengan antusiasme tinggi dan berjalan aman hingga pertandingan berakhir.

“Kami sebagai panitia menyampaikan terima kasih banyak kepada seluruh pemain, baik yang dari luar maupun lokal. Alhamdulillah hari ini pelaksanaannya luar biasa, berhasil, sukses dan aman,” kata Abdul Wahab.

Ia menjelaskan, pelaksanaan turnamen awalnya direncanakan berlangsung selama 12 hari. Namun, karena menyesuaikan kondisi alam dan kesepakatan bersama, pelaksanaan kemudian diperpanjang hingga sekitar 15 hari.

Bagi masyarakat Tanipah dan sekitarnya, Tanipah Cup 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola.

Di tengah kondisi kemarau, lapangan yang muncul dari lahan persawahan kering justru berubah menjadi pusat keramaian. Anak-anak mendapatkan tontonan, masyarakat mendapat hiburan, pemain muda mendapat ruang berkompetisi, sementara pedagang lokal ikut merasakan perputaran ekonomi.

Sebuah lapangan yang lahir dari kondisi alam, namun mampu menyatukan masyarakat melalui olahraga dan kegiatan sosial.