JAKARTA, KBK.NEWS – Polda Metro Jaya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat menyusul polemik identitas sejumlah peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Kepolisian juga mengklarifikasi kehadiran Raffi Ahmad dan Willie Salim serta menyelidiki dugaan penggunaan identitas mahasiswa yang tidak sesuai.

Kegiatan bertema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” itu digelar Polda Metro Jaya di depan Pos Polisi Thamrin pada Kamis, 29 Oktober 2026, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan institusinya menerima beragam tanggapan masyarakat atas kegiatan tersebut. Permintaan maaf disampaikan melalui keterangan resmi pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

“Atas nama Polda Metro Jaya, kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat. Kami memahami kegiatan tersebut menimbulkan beragam tanggapan, dan setiap kritik yang disampaikan kami terima dengan lapang dada untuk menjadi evaluasi,” ujar Budi.

Klarifikasi Kehadiran Raffi Ahmad dan Willie Salim

Budi menjelaskan, kehadiran Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, serta kreator konten Willie Salim merupakan bagian dari undangan penyelenggara. Keduanya bukan pihak yang menginisiasi kegiatan.

“Saudara Raffi Ahmad dan Saudara Willie Salim datang atas undangan kami selaku penyelenggara. Keduanya berniat baik untuk turut memaknai Sumpah Pemuda,” kata Budi.

Dugaan Mahasiswa Gadungan Diselidiki
Kepolisian

Menanggapi dugaan keterlibatan peserta yang bukan mahasiswa. Budi menegaskan, deklarasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai kegiatan tandingan terhadap aksi penyampaian pendapat di muka umum yang berlangsung sehari sebelumnya.
“Mahasiswa yang diduga gadungan dilakukan penyelidikan pihak kepolisian,” ujarnya.

BACA JUGA :  Kasus Pemerasan SYL, Ketua KPK Firli Bahuri Mangkir dari Pemeriksaan Polda Metro Jaya

Sari Putri Akui Bukan Mahasiswa USBI

Polemik identitas peserta turut menyeret nama Sari Putri, yang terlihat mengenakan jaket almamater Universitas Bina Sarana Informatika (USBI). Setelah polemik berkembang di media sosial, Sari menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada mahasiswa kampus tersebut.

Dalam pernyataan videonya, Sari mengakui dirinya bukan mahasiswa aktif USBI dan jaket almamater yang dikenakannya berasal dari seseorang yang tidak ia kenal.

“Pada kesempatan kali ini, atas nama saya Sari Putri, saya memohon maaf pada seluruh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) atas polemik yang terjadi terkait penggunaan almamater logo lama USBI dalam kegiatan deklarasi sumpah pemuda di Bundaran HI,” jelas Sari.

Ia menegaskan, “Saya bukan mahasiswa aktif USBI. Almamater yang saya gunakan merupakan pemberian dari seseorang yang tidak saya kenal dan bukan merupakan identitas resmi saya sebagai mahasiswa USBI.”

KBM USBI Kecam Pihak yang Menyuruh
Organisasi

KBM USBI menyebut Sari mengaku diminta mengenakan almamater tersebut tanpa diberi penjelasan mengenai dampak maupun risikonya. KBM USBI mengecam pihak yang memberi instruksi itu dan menuntut pertanggungjawaban.

“Kami mengecam tindakan pihak yang menyuruh tersebut dan menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan,” demikian pernyataan KBM USBI.