MARTAPURA, KBK.News – Hamparan eceng gondok yang memenuhi aliran Sungai Martapura kian meresahkan masyarakat. Tak hanya menghambat transportasi air, keberadaan tumbuhan liar tersebut juga mulai mengganggu aktivitas ekonomi warga, termasuk para pedagang di Pasar Terapung Lok Baintan.

Persoalan ini disebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Tumpukan eceng gondok bahkan terus bergerak mengikuti arus serta perubahan pasang surut air sungai, sehingga kawasan yang dipenuhi tumbuhan tersebut dapat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Saat air pasang, eceng gondok bergerak ke arah hulu. Sebaliknya, ketika air mulai surut, hamparan tumbuhan air itu terbawa arus menuju hilir.

Pantauan KBK.News pada Jumat (6/11/2026) memperlihatkan tumpukan eceng gondok memenuhi sejumlah titik perairan Sungai Tabuk pada pagi hari. Sekitar pukul 13.30 WITA, ketika debit air mulai surut, sebagian eceng gondok terlihat terbawa arus hingga menuju kawasan Sungai Lulut, Banjarmasin.

Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang sehari-hari menggantungkan aktivitas pada sungai. Terlebih bagi warga Desa Lok Baintan yang dikenal dengan tradisi Pasar Terapung, salah satu daya tarik wisata budaya di kawasan Geopark Meratus.

Salah seorang warga Desa Lok Baintan, Syifa, mengungkapkan bahwa persoalan eceng gondok tahun ini terasa lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Ironisnya, meski sudah berlangsung cukup lama, masyarakat belum melihat adanya penanganan yang memberikan perubahan berarti.

“Ini sepertinya lebih parah dari tahun sebelumnya. Sejak beberapa bulan lalu sampai sekarang masih belum ada solusinya,” ungkap Syifa kepada KBK.News, Jumat (6/11/2026) sore.

Menurutnya, dampak paling terasa dialami para pedagang perempuan atau acil-acil Pasar Terapung Lok Baintan. Mereka yang biasanya leluasa mengayuh jukung untuk menawarkan dan bertukar dagangan, kini harus berhadapan dengan tumpukan eceng gondok yang menutupi jalur sungai.

BACA JUGA :  Wanita Pemancing Diduga Tenggelam di Sungai Martapura, Banjarmasin

Akibatnya, aktivitas jual beli yang menjadi ciri khas Pasar Terapung Lok Baintan tidak bisa berjalan seleluasa biasanya.

“Sangat mengganggu, apalagi bagi masyarakat Lok Baintan, khususnya acil-acil Pasar Terapung yang ingin berjualan. Mereka tidak bisa leluasa bertukar jual seperti biasanya karena eceng gondok memenuhi sungai,” jelasnya.

Syifa menyebutkan, sejauh ini masyarakat belum merasakan perubahan signifikan terhadap warna maupun bau air sungai. Namun, persoalan utama yang mereka hadapi adalah semakin terbatasnya ruang gerak untuk beraktivitas di atas sungai.

Ia juga mengingat sebelumnya pernah ada kegiatan pembersihan eceng gondok menggunakan tongkang. Namun, belakangan ini dirinya tidak lagi melihat kegiatan serupa dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut. Penanganan secara konkret dinilai penting, mengingat Sungai Martapura bukan sekadar jalur transportasi, melainkan juga menjadi urat nadi perekonomian, aktivitas sosial, hingga keberlangsungan tradisi masyarakat bantaran sungai.

“Harapannya pemerintah bisa memberikan solusi untuk membersihkan eceng gondok yang ada, supaya masyarakat bisa beraktivitas seperti biasanya. Kasihan masyarakat sudah lama menahan kondisi ini, tetapi belum ada respons dari pemerintah,” tutupnya.