KBK.NEWS, BANJARMASIN – Alint Markani, seorang ibu rumah tangga yang anaknya tengah berjuang melawan kanker, menyampaikan orasi emosional terkait dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, Kamis (22/10/2026). 

Dalam orasinya, Alint menyoroti persoalan banjir yang dialaminya sejak awal tahun, pemadaman listrik berkepanjangan, hingga kabut asap yang semakin menambah beban keluarganya.

Ia mengaku telah menyampaikan protes terkait persoalan listrik pada Juni lalu. Namun, hingga Oktober, persoalan tersebut menurutnya belum juga terselesaikan sesuai janji yang diterimanya.

“Dari awal tahun saya kebanjiran, habis itu PLN mati sampai sekarang dan sekarang asap. Tolong peduli, Pak,” ujar Alint dalam orasinya.

Alint mengungkapkan, kondisi anaknya yang mengidap kanker membuat kabut asap menjadi ancaman serius bagi perjuangan pengobatan mereka.

Ia bahkan terpaksa berhenti bekerja pada 5 Oktober 2026 karena tidak sanggup lagi membawa anaknya beraktivitas di tengah paparan asap setiap hari.

“Anak saya lagi berjuang, Pak, tapi harus kena asap setiap hari. Akhirnya tanggal 5 Oktober kemarin saya berhenti bekerja karena saya nggak sanggup bawa anak saya tiap hari kena asap untuk bekerja,” katanya.

Ia juga menyindir perbedaan kondisi antara pejabat yang bepergian menggunakan mobil dan masyarakat yang harus mengendarai sepeda motor di tengah kabut asap.

“Bapak sakit, iya, Pak, Bapak sakit, tapi masih bisa berangkat pakai mobil. Saya naik Scoopy bawa anak saya yang sakit, kena asap, Pak,” ucapnya.

Menurut Alint, persoalan tersebut tidak hanya dialami keluarganya. Ia menyebut banyak orang tua pasien kanker yang harus mengantar anak mereka menjalani pengobatan kemoterapi dari berbagai daerah, termasuk Pelaihari dan Kapuas, dengan melewati wilayah yang terdampak asap.

BACA JUGA :  Musim Kemarau, Karhutla Mulai Melanda Kabupaten Banjar

“Di rumah sakit banyak orang tua pasien yang menemani anaknya berjuang hidup melawan kanker. Mereka naik motor dari Pelaihari, dari Kapuas, melewati asap,” tuturnya.

Alint menegaskan, perjuangan pasien kanker untuk mendapatkan pengobatan seharusnya tidak semakin dibebani oleh buruknya kualitas udara akibat karhutla.

“Percuma kami jauh-jauh kemo, Pak, kalau harus menghadapi kondisi seperti ini. Biar sakit enak naik mobil,” ujarnya.

Orasi Alint menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan, keberlangsungan ekonomi keluarga, dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang aman.

Kelompok rentan, khususnya anak-anak yang tengah menjalani pengobatan penyakit serius, membutuhkan perlindungan lebih dari paparan asap.

Pemerintah daerah dan instansi terkait dituntut memperkuat penanganan karhutla, memastikan kualitas udara dipantau secara terbuka, serta memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat terdampak. Bagi Alint, persoalan ini bukan sekadar angka kebakaran atau kabut asap.

Ada anak yang sedang berjuang melawan kanker, orang tua yang berjuang mencari nafkah, dan keluarga yang membutuhkan kepedulian negara.