Anies Baswedan Guncang UMB Banjarmasin: Ingatkan Mahasiswa soal ‘Bencana Buatan Manusia
KBK.News BANJARMASIN — Universitas Muhammadiyah Banjarmasin melalui Keluarga Mahasiswa UMB (KM UMB) menggelar Kuliah Tamu bertema “Dialog Kebangsaan Bersama Anies Baswedan” pada Minggu, 30/11/2025, bertempat di Studio Adijani Al-Alabij. Kegiatan tersebut menghadirkan Anies Baswedan, akademisi, aktivis, sekaligus politikus Indonesia sebagai pembicara utama.
Dialog kebangsaan ini dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta dibuka dengan sambutan dari jajaran kampus dan organisasi mahasiswa.
Presiden KM UMB Banjarmasin, Muhammad Irfan Naufal, menyampaikan apresiasi kepada pihak universitas yang telah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa dialog tersebut digagas lebih dari dua bulan sebagai ruang pembelajaran publik bagi mahasiswa.
“Harapannya dialog ini berjalan interaktif sehingga mahasiswa tidak hanya mendengar, tetapi memahami substansi yang disampaikan,” ujar Irfan dalam sambutannya.
Sambutan kedua disampaikan oleh Wakil Rektor II Yustan Azidin, Ns., M.Kep. yang mewakili Rektor Prof. Dr. H. Khudzaifah Dimyati, S.H., M.Hum. Ia mengapresiasi tingginya partisipasi mahasiswa meski kegiatan dilaksanakan pada akhir pekan.
“Minat mahasiswa untuk menambah wawasan sangat terlihat hari ini. Jadilah mahasiswa aktif dalam bidang apapun yang ditekuni,” pesannya.
Dalam sesi dialog, Anies Baswedan menekankan bahwa fenomena alam seperti badai atau topan telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Namun, menurutnya, kerusakan ekologis akibat aktivitas manusia membuat kondisi alam berubah menjadi bencana yang berulang.
“Ketika hutan digunduli, hujan bukan sekadar hujan. Ia berubah menjadi bencana. Jangan sebut itu semata bencana alam, tetapi bencana yang dibuat manusia karena kebijakan-kebijakan yang merusak udara dan ekosistem,” ujar Anies.
Ia mencontohkan berbagai peristiwa banjir di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara yang menurutnya dipengaruhi oleh minimnya kebijakan publik berbasis lingkungan.
Dengan narasi lingkungan yang kuat, Anies juga membagikan pengalaman pribadi. Dalam perjalanan menuju Banjarmasin, ia menerima foto seekor gajah yang mati akibat perburuan kayu. Peristiwa itu menurutnya menunjukkan bahwa makhluk hidup lain ikut menanggung dampak kerusakan lingkungan.
“Bumi telah melalui banyak zaman dan makhluk. Jika kita merusaknya hari ini, generasi berikutnya manusia maupun hewan akan mewarisi kerusakan yang tidak mereka ciptakan,” tegasnya.
Di hadapan peserta yang didominasi mahasiswa, Anies mengajak mereka menjadi bagian dari ruang akademik yang aktif dan kritis. Ia menilai mahasiswa harus memahami bagaimana kebijakan bekerja, termasuk ketika kebijakan publik tidak berjalan sesuai prinsip yang semestinya.
“Ketika roda pemerintahan tidak berjalan sesuai aturannya, mahasiswa harus berani mengkritisi,” ujarnya.
Dialog diakhiri dengan sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Mahasiswa menyampaikan berbagai pertanyaan terkait isu lingkungan, pemerintahan, hingga situasi sosial politik terkini. (Masruni)
