KBK.News, KANDANGAN – Penetapan awal puasa dan Hari Raya Idul Fitri kembali berpotensi berbeda pada 2026. Hal itu disampaikan Dr. Muhammad Rasyid, M.S.I., Dosen Ilmu Falak IAI Darul Ulum Kandangan, dalam Seminar Falak bertajuk “Mengurai Perbedaan Penetapan Awal Puasa dan Hari Raya di Indonesia” yang digelar Sabtu (14/2/2026), bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Menurut Rasyid, perbedaan awal bulan kamariah, termasuk 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1447 H, dapat dipetakan ke dalam tiga faktor utama, yakni perbedaan metode dan kriteria penentuan, perbedaan pemahaman batas geografis (maṭla’), serta perbedaan pandangan mengenai otoritas penetapan awal bulan.

Pertama, perbedaan metode dan kriteria penentuan awal bulan. Di Indonesia, sejumlah organisasi Islam menggunakan parameter yang berbeda. Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama dan Persatuan Islam (PERSIS) menggunakan kriteria Imkān al-Ru’yah dengan ketentuan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Sementara itu, Muhammadiyah menerapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang mulai diberlakukan pada 1447 H, dengan kriteria tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat di mana pun di permukaan bumi sebelum pukul 12.00 GMT.

“Perbedaan parameter inilah yang berpotensi menghasilkan tanggal awal bulan yang berbeda,” ujar Rasyid.

Kedua, perbedaan dalam memahami keberlakuan hasil rukyat hilal. Pemerintah dan mayoritas ormas Islam di Indonesia menganut prinsip maṭla’ wilayatul hukmi, yakni hasil rukyat berlaku dalam satu wilayah negara. Sebaliknya, Muhammadiyah saat ini menggunakan pendekatan maṭla’ global, di mana hasil rukyat di satu wilayah dapat berlaku secara internasional.

Ketiga, perbedaan pandangan mengenai otoritas penetapan awal bulan. Sebagian kalangan menyerahkan keputusan kepada pemerintah sebagai otoritas resmi negara, sementara yang lain memandangnya sebagai ranah fikih yang dapat diputuskan masing-masing organisasi.

BACA JUGA :  Dari Desa Taluk Aman, FKPWK Kalsel Wujudkan Swasembada Pangan Lokal

Berdasarkan hasil hisab astronomis yang dipaparkan, ijtima’ (konjungsi) awal Ramadhan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026. Posisi hilal di seluruh Indonesia dan Asia masih berada di bawah ufuk sehingga tidak memenuhi kriteria Imkān al-Ru’yah pemerintah dan NU.

Dengan demikian, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadhan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Namun, di wilayah belahan bumi bagian barat, posisi hilal telah mencapai tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat. Posisi tersebut memenuhi kriteria KHGT Muhammadiyah, sehingga 1 Ramadhan 1447 H berpotensi ditetapkan pada Rabu, 18 Februari 2026.

Hal serupa diperkirakan terjadi pada 1 Syawal 1447 H. Di Indonesia, posisi hilal sudah berada di atas ufuk tetapi belum mencapai tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Berdasarkan kriteria pemerintah dan NU, 1 Syawal diprediksi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Sementara menurut kriteria KHGT Muhammadiyah, karena di wilayah lain di dunia hilal telah memenuhi tinggi lebih dari 5 derajat dan elongasi lebih dari 8 derajat, 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Adapun awal Dzulhijjah 1447 H diprediksi akan berlangsung seragam karena posisi hilal di Indonesia maupun dunia telah memenuhi seluruh kriteria yang digunakan berbagai pihak.

Rasyid yang juga menjabat Wakil Rektor III IAI Darul Ulum Kandangan menegaskan, perbedaan awal puasa dan hari raya bukanlah fenomena baru. Ia merujuk catatan sejarah dari masa kolonial Belanda melalui surat C. Snouck Hurgronje tertanggal 14 April 1897 yang mencatat perbedaan penetapan bahkan terjadi antarwilayah berdekatan di Jawa dan Sumatra.

“Selama belum ada kesepakatan bersama terkait kriteria, batas keberlakuan rukyat, dan otoritas penetapan awal bulan, maka perbedaan ini akan terus terjadi,” pungkasnya. (Kandangan)