KBK.News, MARTAPURA — Tidak semua anak muda memilih jalan yang sama. Di saat sebagian mengejar kesuksesan untuk dirinya sendiri, Muhammad Luthfi Najhan justru memilih turun langsung ke tengah masyarakat.

Berangkat dari keluarga sederhana dan tumbuh sebagai anak petani di Desa Padang Panjang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Luthfi belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

Dari lingkungan pedesaan itulah, semangat kepedulian Luthfi tumbuh. Ia kemudian mulai aktif membangun gerakan sosial, kemanusiaan dan kepemudaan yang hingga kini terus dijalankannya.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Universitas Terbuka Banjarmasin, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP), Luthfi tetap menyempatkan diri untuk terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan kerelawanan.

Ia merupakan salah satu pendiri Intan Peduli, sekaligus pencetus dan penggerak PDP Respon, sebuah wadah relawan yang hadir untuk merespons berbagai kondisi darurat di masyarakat.

Mulai dari kecelakaan, kebakaran, bencana alam hingga kegiatan sosial dan kemanusiaan lainnya menjadi bagian dari aktivitas para relawan yang digerakkannya.

Bagi Luthfi, menjadi relawan bukan sekadar hadir ketika terjadi musibah. Lebih dari itu, gerakan sosial harus mampu membangun rasa kepedulian dan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut mengambil peran.

“Saya percaya bahwa anak muda tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk bisa berbuat sesuatu. Dari hal kecil, dari lingkungan sekitar, kita sudah bisa memberikan manfaat,” menjadi semangat yang terus dibawa dalam perjalanan sosialnya.

Berangkat dari Desa, Bergerak untuk Sesama

Latar belakang sebagai anak petani justru menjadi bagian penting dalam perjalanan Luthfi. Kehidupan sederhana yang dijalaninya sejak kecil mengajarkan tentang kerja keras, ketekunan dan bagaimana saling membantu ketika berada dalam kesulitan.

BACA JUGA :  Tagar #WargaBantuWarga Menggema di Balangan, Pemuda Turun Tangan Pulihkan Warga Pasca Banjir

Nilai-nilai tersebut kemudian ia bawa ketika terjun ke masyarakat.

Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, ketika terjadi musibah, atau ketika kondisi darurat membutuhkan respons cepat, Luthfi bersama jaringan relawannya berusaha hadir sesuai kemampuan.

Gerakan itu pun perlahan berkembang. Bukan hanya soal memberikan bantuan, tetapi juga membangun jejaring antarrelawan dan membuka ruang bagi anak-anak muda untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.

Menurutnya, semangat gotong royong yang tumbuh di masyarakat harus terus dirawat. Sebab, persoalan sosial dan kemanusiaan tidak selalu dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak.

Bukan Karena Nama, Tetapi Karena Proses

Dalam perjalanan keluarganya, Luthfi diketahui merupakan keponakan Warhamni, mantan anggota DPRD Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai salah satu politisi senior di daerah tersebut.

Namun, keterlibatan Luthfi dalam dunia sosial dan kemanusiaan dibangun melalui prosesnya sendiri. Ia memilih membuktikan kiprahnya melalui kerja lapangan, membangun organisasi dan bergerak bersama para relawan.

Baginya, latar belakang keluarga bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan berproses.

Justru dari desa, ia ingin menunjukkan bahwa anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan memberikan warna bagi daerahnya.

Kini, Luthfi terus menapaki perjalanan sebagai pegiat sosial, kemanusiaan dan penggerak kepemudaan di Kabupaten Banjar.

Perjalanannya mungkin masih panjang. Namun satu hal yang sudah dimulainya adalah membangun ruang bagi anak muda untuk peduli, bergerak dan hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Dari keluarga sederhana, dari kehidupan sebagai anak petani, dari sebuah desa di Kabupaten Banjar, Muhammad Luthfi Najhan memilih menulis jalannya sendiri bukan sekadar mengejar pencapaian, tetapi berusaha meninggalkan manfaat bagi sesama.