KBK News, MALANG– Nama Bentoel pernah menjadi simbol kejayaan rokok kretek nasional. Berbasis di Malang, Jawa Timur, merek ini dikenal luas karena kualitasnya dan sempat menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.

Di balik kejayaan itu, ada sosok pekerja keras bernama Ong Hok Liong, pendiri Bentoel yang memulai usahanya dari skala kecil.

Dilansir inilah.com, meski kini Bentoel berada di bawah kendali British American Tobacco (BAT) dan telah resmi keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan ini masih beroperasi dengan sekitar 1.400 karyawan di berbagai wilayah Indonesia.

Merintis dari Keluarga Pedagang Tembakau

Ong Hok Liong lahir di Karang Pacar, Bojonegoro, Jawa Timur, pada 12 Agustus 1913.

Ia merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara, pasangan Ong Hing Tjien dan Liem Pian Nio. Sejak kecil, Ong Hok Liong telah akrab dengan dunia tembakau karena keluarganya merupakan pedagang tembakau.

Pada usia 17 tahun, ia menikah dengan Liem Kiem Kwie Nio, putri sulung pengusaha Liem Tek Bie. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri bernama Mariani.

Setelah berkeluarga, Ong Hok Liong dipercaya ayahnya untuk mengelola usaha tembakau keluarga.

Dengan kegigihan dan kerja keras, ia memasarkan tembakau hingga palawija di wilayah Malang.

Usahanya berkembang pesat, hingga pada 1921 ia memutuskan menetap di Malang bersama keluarganya dan menyewa sebuah rumah kecil di Jalan Pecinan Kecil.

Lahirnya Pabrik Rokok Bentoel

Dua tahun setelah kelahiran anak keduanya pada 1928, Ong Hok Liong mengambil keputusan besar. Bersama rekannya Tjoa Sioe Bian, ia mendirikan pabrik rokok di Malang.

Awalnya, pabrik ini bernama Stroojes-Fabriek Ong Hok Liong, kemudian berganti menjadi Hien An Kongsie.

Dari pabrik tersebut lahir berbagai merek rokok seperti Tjap Burung, Tjap Klabang, hingga Djeroek Manis.

Penggunaan nama-nama unik membuat produknya mudah dikenali dan cepat populer di Malang.

Memasuki 1950-an, perusahaan melakukan transformasi besar.

Nama perusahaan diubah menjadi NV Pertjetakan Liem An, lalu secara resmi menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel pada 1954.

Nama “Bentoel” menjadi tonggak penting yang membawa keberuntungan besar bagi perusahaan.

Dalam waktu singkat, Bentoel berkembang pesat.

Pada 1960, jumlah karyawan mencapai 3.000 orang, menandai puncak kejayaan perusahaan kretek tersebut.

Sepeninggal Pendiri hingga Go Private

Perjalanan Ong Hok Liong harus terhenti pada 1967 setelah ia wafat. Tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Budhiwijaya Kusumanegara, sebagai Presiden Direktur Bentoel.

Namun memasuki era 1980-an, perusahaan menghadapi kesulitan keuangan serius.

Bentoel tak mampu melunasi pinjaman senilai US$170 juta serta kewajiban kepada kreditor asing sebesar US$350 juta.

Akibatnya, keluarga harus melepas sekitar 70 persen saham perusahaan.

Saham tersebut sempat dilirik Hutomo Mandala Putra, namun transaksi gagal.

Akhirnya, saham Bentoel diambil alih oleh Peter Sondakh melalui Rajawali Wira Bhakti Utama.

Pada 1997, aset Bentoel dialihkan ke perusahaan baru bernama PT Bentoel Prima, lalu berubah menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) pada 2000.

British American Tobacco kemudian menguasai 92,48 persen saham perusahaan.

Tak lama berselang, Bentoel memutuskan menjadi perusahaan tertutup (go private).

Puncaknya, pada 12 Oktober 2023, RMBA mengajukan permohonan delisting, yang disetujui BEI.

Bentoel resmi hengkang dari pasar modal Indonesia pada 9 Januari 2024.

Kisah Spiritual di Balik Nama Bentoel

Nama “Bentoel” sendiri memiliki kisah unik.

Pada 1954, Ong Hok Liong berziarah ke makam kerabat Mbah Djugo di kawasan Gunung Kawi.

Dalam tidurnya di area makam, ia bermimpi melihat ubi talas.

Mimpi tersebut ia ceritakan kepada juru kunci makam, yang menafsirkan mimpi itu sebagai pertanda agar Ong Hok Liong mengganti nama merek rokoknya, mengingat penjualan saat itu kurang memuaskan.

Ong Hok Liong kemudian memilih kata “bentul”, sebutan Jawa untuk ubi talas. Karena belum ada Ejaan Yang Disempurnakan, penulisan merek itu menjadi “Bentoel”—nama yang kelak melegenda dalam industri rokok Indonesia.

.