Disdik Banjar Genjot Pemerataan Infrastruktur Sekolah di Momentum Hardiknas 2026
KBK.News, MARTAPURA – Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar untuk menegaskan komitmennya dalam pemerataan pembangunan infrastruktur sekolah. Selama lima tahun terakhir di bawah kepemimpinan Bupati H. Saidi Mansyur, pembenahan sarana dan prasarana pendidikan terus dilakukan secara berkelanjutan, Rabu (6/5/2026).
Pemerataan hingga Pelosok Daerah
Pembangunan tidak hanya terfokus di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah terpencil seperti Paramasan, Aluh-Aluh, dan sejumlah wilayah lainnya. Di bawah kepemimpinan Kepala Disdik Banjar, Hj. Liana Penny, pemerataan menjadi fokus utama agar tidak ada kesenjangan fasilitas pendidikan.

Berbagai pekerjaan fisik telah dilaksanakan, mulai dari pembangunan pagar sekolah, peningkatan lapangan untuk kegiatan apel, rehabilitasi ruang kelas, revitalisasi bangunan, hingga relokasi sekolah di lokasi tertentu.
“Pemerataan ini penting agar seluruh peserta didik, baik di kota maupun di pelosok, mendapatkan fasilitas belajar yang layak dan aman,” ujar Kadisdik Banjar Hj Liana Penny, melalui Kabid Sarpras, Mahriansyah.
Ratusan Sekolah Ditangani Setiap Tahun

Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Banjar tidak hanya melalui penguatan SDM, tetapi juga lewat pembenahan infrastruktur. Dalam kurun waktu 2021 hingga 2025, ratusan satuan pendidikan atau sekolah dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP telah mendapatkan penanganan.
Pada 2021, sebanyak 125 sekolah ditangani dengan anggaran APBD dan APBN sekitar Rp29,76 miliar. Tahun 2022, jumlahnya menjadi 121 sekolah dengan anggaran Rp32,74 miliar. Pada 2023, sebanyak 108 sekolah ditangani dengan anggaran Rp37,78 miliar.
Lonjakan signifikan terjadi pada 2024, dengan 202 sekolah mendapatkan penanganan dan anggaran mencapai Rp50,65 miliar. Sementara pada 2025, tercatat 118 sekolah dengan anggaran sekitar Rp43,05 miliar.
Penanganan Berdasarkan Tingkat Kerusakan

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Banjar, Mahriansyah, menjelaskan bahwa fluktuasi jumlah sekolah dan anggaran merupakan hal yang wajar, karena disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
“Penanganan tidak hanya dilihat dari jumlah sekolah, tetapi juga tingkat kerusakannya. Ada rehabilitasi ringan, sedang, berat, hingga pembangunan baru, sehingga kebutuhan anggaran berbeda setiap tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, Sekolah Dasar (SD) menjadi prioritas utama karena jumlahnya paling banyak dan tersebar hingga ke wilayah pelosok.
“Kami memastikan tidak ada kesenjangan fasilitas antar sekolah, sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan optimal,” tambahnya.
Infrastruktur sebagai Investasi Jangka Panjang

Menurut Mahriansyah, peningkatan anggaran pada tahun tertentu mencerminkan skala pekerjaan yang lebih besar, seperti pembangunan ruang kelas baru atau rehabilitasi total bangunan.

Disdik Banjar juga mulai mengantisipasi tantangan geografis, khususnya bagi sekolah yang berada di bantaran sungai. Pada 2026, Relokasi bangunan akan dilakukan guna mencegah dampak abrasi dan longsor, sementara penguatan struktur lebih kepada sekolah yang bangunan nya berada di tanah rawa.
“Sekolah di bantaran sungai yang berpotensi abrasi atau longsor tentunya akan kami relokasi demi keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik,” ujarnya.
Ia menegaskan, pembangunan fisik bukan sekadar rutinitas, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah.
“Dengan fasilitas yang memadai, kami berharap kualitas pembelajaran semakin meningkat dan berdampak nyata bagi masa depan generasi di Kabupaten Banjar,” pungkasnya.
