DPO Pembantaian Satu Keluarga di Benangin II Ditangkap di Kaltim
KBK.News, MUARA TEWEH,– Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Barito Utara (Barut), Polda Kalimantan Tengah, akhirnya berhasil menangkap pelaku terakhir dalam kasus pembantaian sadis satu keluarga di Desa Benangin II, Kecamatan Teweh Timur.
Pelaku bernama Suparno alias SPN alias Mano (45), yang sebelumnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), ditangkap di wilayah Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada Selasa (28/4) sekitar pukul 16.30 WITA.
Kapolres Barut AKBP Singgih Febiyanto melalui Kasat Reskrim Iptu Ricky Hermawan mengatakan, penangkapan Mano menandai lengkapnya pengungkapan kasus tersebut, setelah sebelumnya tiga pelaku lain telah lebih dulu diamankan.
“Tersangka ditangkap saat bersembunyi di sebuah pondok kosong di kawasan belukar di Kutai Timur,” ujarnya, Jumat (1/5).
Selama dalam pelarian, Mano berpindah-pindah lokasi untuk menghindari kejaran aparat.
Ia sempat berada di Samarinda, Kutai Barat, Kongbeng hingga Muara Wahau.
“Setelah kejadian, tersangka kabur menggunakan sepeda motor ke Kutai Barat, kemudian motor tersebut dijual.
Selanjutnya ia melanjutkan pelarian menggunakan travel ke sejumlah daerah hingga akhirnya ditangkap di Kutai Timur,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, Mano mengakui telah menghabisi tiga korban.
Sementara satu korban lainnya dibunuh oleh pelaku lain berinisial F yang sebelumnya telah diamankan.
Untuk korban anak-anak, polisi masih melakukan pendalaman.
“Belum ada yang mengakui siapa pelaku pembunuhan terhadap anak kecil tersebut,” tambahnya.
Kepada petugas, Mano juga mengaku membuang senjata rakitan ke sungai usai kejadian, sementara senjata tajam jenis mandau tetap dibawanya selama pelarian.
Penangkapan Mano merupakan hasil kerja sama lintas wilayah antara Polres Barito Utara, Polres Kutai Timur, dan Polsek Kongbeng, meski menghadapi medan berat.
Diketahui, peristiwa pembantaian terjadi di area perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT Timber Dana pada Ahad (19/4) sekitar pukul 16.30 WIB.
Akibat kejadian tersebut, lima orang meninggal dunia, yakni Cua (55), Hasna (40), Tasya Haulina (17), David (3), dan Ono (50).
Sementara satu korban lainnya, Alfian (40), selamat namun dalam kondisi kritis.
Kasus ini masih terus dikembangkan guna mengungkap motif serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.
