Gagal Panen Padi di Aluh-Aluh Tembus Lebih dari 50 Persen, Distan Banjar Soroti Serangan Tungro
KBK.News, MARTAPURA – Ancaman terhadap produksi padi di wilayah Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, kembali menjadi perhatian. Tingkat gagal panen dilaporkan mencapai lebih dari 50 persen, setelah tanaman padi petani mengalami kerusakan cukup parah.
Namun, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar memastikan persoalan tersebut bukan disebabkan oleh air asin atau intrusi air laut, melainkan salah satunya akibat serangan penyakit tungro yang menyerang tanaman padi petani.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengatakan pihaknya telah menerima dan mengonfirmasi adanya laporan dari masyarakat terkait kondisi pertanaman padi yang mengalami kerusakan hingga berdampak terhadap hasil panen.
“Kalau di Aluh-Aluh itu bukan air asin. Tidak ada. Karena tungro,” ujar Warsita saat dikonfirmasi, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, serangan tungro menjadi salah satu persoalan yang harus diantisipasi sejak awal musim tanam. Penyakit tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman padi terganggu hingga berujung pada penurunan produksi bahkan gagal panen.
Untuk menekan risiko serangan tungro, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar kini mendorong petani agar lebih selektif dalam memilih benih yang digunakan.
Warsita menyebut penggunaan benih bersertifikat dan varietas unggul menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat serangan penyakit.
“Kami sudah sosialisasi kepada masyarakat. Untuk pertanaman selanjutnya harus menggunakan bibit bersertifikat,” katanya.
Selain penggunaan benih bersertifikat, petani juga diarahkan memilih varietas yang sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.
Warsita menjelaskan, varietas unggul seperti Inpari 32 dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, pihaknya juga tidak serta-merta mengarahkan seluruh petani menggunakan varietas tersebut.
“Bisa Inpari 32, bisa juga lokal unggul,” jelasnya.
Menurut Warsita, varietas lokal unggul tetap menjadi pilihan penting karena karakteristik dan preferensi masyarakat setempat perlu diperhatikan. Selain produktivitas, jenis beras yang dihasilkan juga menjadi pertimbangan petani dan konsumen.
“Orang sini kan tidak semuanya bisa makan beras unggul. Jadi kita arahkan juga untuk menanam lokal unggul,” ujarnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Banjar pun menilai penggunaan benih yang tepat harus menjadi bagian dari strategi pencegahan, bukan hanya dilakukan setelah tanaman terserang penyakit.
Dengan adanya laporan kerusakan tanaman hingga lebih dari separuh pertanaman di sejumlah wilayah Aluh-Aluh, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat pendampingan kepada petani, terutama dalam menghadapi ancaman penyakit tanaman serta kondisi cuaca yang tidak menentu.
Bagi petani, persoalan gagal panen bukan sekadar berkurangnya produksi. Kondisi tersebut juga menyangkut pendapatan keluarga dan keberlanjutan musim tanam berikutnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Banjar memastikan upaya sosialisasi dan pendampingan akan terus dilakukan agar petani dapat menentukan benih serta pola tanam yang lebih tepat, sehingga risiko kerugian akibat serangan tungro dapat ditekan pada musim tanam selanjutnya.
