KBK.News, MARTAPURA – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan. Tak hanya mengganggu proses administrasi sekolah, pemadaman juga membuat fasilitas pembelajaran digital bantuan pemerintah pusat tak dapat digunakan, Senin (27/7/2026).

Salah satu yang terdampak adalah Papan Interaktif Digital (PID) yang digunakan sekolah untuk menunjang proses belajar mengajar berbasis digital.

Ketua PGRI Kabupaten Banjar, Zainal Arifin, mengatakan perangkat tersebut sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik. Ketika listrik padam, guru terpaksa kembali menggunakan metode pembelajaran secara manual.

“Kalau listrik padam, PID itu tidak bisa difungsikan sama sekali. Akhirnya pembelajaran kembali dilakukan secara manual,” ujar Zainal.

Menurutnya, saat ini sebagian besar sekolah rata-rata baru menerima satu unit PID. Penggunaannya pun harus diatur secara bergantian sesuai kebutuhan guru.

Kondisi tersebut membuat manfaat fasilitas digital yang diberikan pemerintah pusat tidak dapat maksimal ketika pasokan listrik terganggu.

“Setiap sekolah rata-rata baru mendapat satu PID. Penggunaannya diatur oleh sekolah. Tapi kalau listrik mati, ya tidak bisa dipakai sama sekali,” katanya.

Administrasi Sekolah Ikut Terdampak

Persoalan tidak berhenti pada kegiatan belajar mengajar. Pemadaman listrik juga menghambat pekerjaan administrasi sekolah yang saat ini semakin bergantung pada sistem daring.

Zainal mengatakan sejumlah pekerjaan yang biasanya dilakukan secara online terpaksa tertunda. Selain listrik padam, koneksi internet di beberapa lokasi juga ikut terganggu.

BACA JUGA :  BKSDA Kalsel Lepas Liarkan Ribuan Burung di Tahura Sultan Adam

“Yang biasanya dikerjakan secara online akhirnya tidak bisa. Itu yang menjadi keluhan dari sekolah,” ucapnya.

Meski demikian, PGRI Kabupaten Banjar sejauh ini belum menerima laporan adanya sekolah yang sampai menghentikan kegiatan belajar mengajar akibat pemadaman.

Namun, kendala teknis mulai dirasakan, terutama bagi sekolah yang tidak memiliki sumber listrik cadangan seperti genset.

Sempat Ganggu Penerimaan Murid Baru

Dampak pemadaman listrik juga sempat dirasakan ketika pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), yang sebagian prosesnya dilakukan melalui aplikasi daring.

Menurut Zainal, selain masih terdapat orang tua yang belum terbiasa menggunakan sistem pendaftaran online, gangguan listrik turut memengaruhi kestabilan jaringan internet sehingga pelayanan menjadi lebih lambat.

“Orang tua murid masih banyak yang belum paham menggunakan aplikasi. Saat listrik padam, sinyal juga sering hilang sehingga pelayanan ikut terkendala,” jelasnya.

Sekolah, lanjutnya, tetap berupaya memberikan pendampingan kepada masyarakat sehingga proses pendaftaran dapat berjalan hingga seluruh tahapan SPMB selesai.

PGRI Kabupaten Banjar berharap gangguan pasokan listrik yang kembali terjadi dalam sepekan terakhir dapat segera teratasi.

Sebab, di tengah semakin masifnya digitalisasi pendidikan, listrik kini menjadi salah satu kebutuhan utama untuk memastikan proses pembelajaran maupun pelayanan administrasi sekolah tetap berjalan.

“Harapan kami tentu pasokan listrik segera normal. Sekarang pembelajaran dan administrasi sekolah sudah banyak berbasis digital, sehingga listrik menjadi kebutuhan yang sangat penting,” pungkas Zainal.