KBK.NEWS TEHERAN – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berhasil menangkap sebuah kapal selam nirawak milik Amerika Serikat di pintu masuk Selat Hormuz pada Selasa malam. Penangkapan ini dinilai menjadi bukti bahwa Iran mampu mendeteksi serta merusak ruang gerak aset bawah permukaan militer AS.

​Analis strategis sekaligus staf pengajar Universitas Tinggi Pertahanan Nasional Iran, Fathollah Klentari, menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar keberhasilan taktis biasa, melainkan sebuah kemenangan strategis bagi Iran dan kekalahan strategis bagi pihak Amerika Serikat.

​”Pesan utamanya adalah kemampuan IRGC dalam mendeteksi dan melacak persenjataan rahasia musuh di lingkungan bawah permukaan. Wilayah yang sebelumnya dianggap aman bagi AS kini tidak lagi memberikan perlindungan yang sama,” ujar Klentari dalam wawancaranya dengan Fars News Agency, Kamis (10/9/2026).

​Menurut Klentari, operasi ini menggabungkan berbagai keahlian militer, mulai dari perang siber, tindakan antisistem elektronik, hingga penggunaan sensor dan rudal. Ia menjelaskan bahwa dominasi militer AS di kawasan Teluk Persia selama ini bertumpu pada kekuatan udara dan armada bawah laut. Namun, menyusul jatuhnya jet tempur F-35 milik AS oleh sistem pertahanan udara Iran beberapa waktu lalu, AS kini lebih menggantungkan operasinya pada serangan rudal jarak jauh dari kapal laut dan kapal selam.

BACA JUGA :  Piala Dunia 2026: Iran dan Selandia Baru Saling Balas Gol, Skor Berakhir 2-2

​Dengan ditangkapnya wahana bawah permukaan tersebut, keunggulan strategis yang menjadi sandaran militer Amerika Serikat dinilai telah lumpuh. Klentari menambahkan bahwa Iran berencana melakukan proses rekayasa balik (reverse engineering) terhadap teknologi kapal selam nirawak tersebut, layaknya keberhasilan Iran menguasai dan mengembangkan teknologi dari pesawat nirawak AS RQ-170 di masa lalu.

​Operasi ini sekaligus menandai perubahan mendasar pada karakter dan arsitektur perang di Selat Hormuz, yang kini bergeser dari sekadar konfrontasi rudal dan drone menuju kombinasi perang sensor, siber, dan elektronik. Pasca insiden ini, pihak Iran mengklaim bahwa ruang gerak kapal permukaan maupun bawah permukaan nirawak milik Amerika Serikat di Teluk Persia hingga Laut Oman semakin menyempit.