KBK.NEWS JAKARTA — Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) meminta seluruh jajaran Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) bergerak cepat merespons penghentian sementara operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK). Langkah ini krusial untuk menekan dampak buruk dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang sempat mengganggu kawasan udara bandara tersebut.

​Instruksi ini diterbitkan setelah Bandara Soekarno-Hatta sempat berhenti beroperasi pada Minggu (6/9/2026) dini hari mulai pukul 01.30 hingga 05.30 WIB. Berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26 serta pengujian paper test di lapangan, ditemukan paparan material abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan.

​Guna menjaga kelancaran perjalanan para jemaah, HIMPUH menekankan beberapa poin krusial yang wajib dijalankan oleh travel umrah:

  • ​Pemeriksaan Jadwal: Segera memverifikasi status penerbangan terkini bagi seluruh jemaah yang dijadwalkan berangkat maupun mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada hari ini.
  • ​Komunikasi Maskapai: Membuka jalur koordinasi intensif dengan pihak maskapai penerbangan guna mengantisipasi opsi penundaan, penjadwalan ulang (reschedule), pembatalan, hingga pengalihan rute.
  • ​Penyampaian Informasi Jemaah: Menyampaikan pembaharuan kondisi penerbangan secara berkala dan transparan agar para jemaah tetap tenang dan terhindar dari kepanikan.
  • ​Waspadai Dampak Berantai: Menyiapkan skenario penanganan efek domino (cascading impact), mengingat gangguan pada satu penerbangan berpotensi merusak rantai jadwal operasional berikutnya.

​Dampak dari penutupan singkat ini sedikitnya memengaruhi 33 rute penerbangan, baik penerbangan internasional maupun domestik. Untuk rute mancanegara, gangguan melanda penerbangan tujuan Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam, hingga Kuala Lumpur. Adapun untuk penerbangan dalam negeri, potensi keterlambatan dan pengalihan melingkupi rute Lampung, Denpasar, serta Surabaya.