KBK.News, MARTAPURA – Kebiasaan masyarakat membeli dan mengonsumsi antibiotik saat terserang flu masih sering ditemukan. Padahal, penggunaan antibiotik secara sembarangan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan di kemudian hari.

Apoteker Rina Astiani dari RSUD Ratu Zalecha mengingatkan, flu bukanlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, melainkan virus. Karena itu, antibiotik tidak dianjurkan digunakan untuk mengobati flu biasa.

Menurut Rina, sebagian besar flu sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya asalkan penderita cukup beristirahat, menjaga pola makan, dan mengonsumsi obat pereda gejala bila diperlukan.

“Flu itu sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Sebenarnya bisa sembuh sendiri dengan istirahat. Jadi kalau mau diobati, seharusnya menggunakan antivirus, bukan antibiotik,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, antibiotik hanya bekerja untuk melawan infeksi akibat bakteri. Jika digunakan tanpa indikasi yang tepat, obat tersebut justru dapat memicu resistensi antibiotik atau kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat.

Akibatnya, saat seseorang benar-benar terkena infeksi bakteri di masa mendatang, antibiotik yang biasa digunakan tidak lagi efektif.

“Kalau seseorang menggunakan antibiotik padahal tidak ada indikasi infeksi bakteri, maka nantinya saat terkena infeksi, antibiotik yang biasa digunakan tidak akan mempan lagi karena bakterinya sudah kebal,” jelasnya.

BACA JUGA :  Gara-Gara Banjir Dua Warga Kota Martapura Tersengat Listrik Dan Satu Meninggal

Rina mengatakan, kondisi tersebut membuat pasien terpaksa menggunakan antibiotik dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih kuat untuk melawan bakteri yang sama.

“Sehingga harus naik kelas antibiotiknya. Padahal untuk orang lain mungkin masih bisa menggunakan antibiotik biasa,” katanya.

Selain lebih sulit didapat, antibiotik tingkat lanjut juga umumnya memiliki harga yang jauh lebih mahal dibanding antibiotik biasa yang sering digunakan masyarakat.

“Biasanya antibiotik yang sering didapat masyarakat itu harganya masih sangat terjangkau. Kalau sudah naik kelas, biasanya lebih mahal,” tambahnya.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak membeli ataupun mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter atau tenaga kesehatan. Menurutnya, edukasi tentang penggunaan antibiotik yang benar perlu terus digencarkan agar masyarakat lebih memahami risiko penggunaan obat secara sembarangan.

Saat ini, sosialisasi mengenai bahaya resistensi antibiotik sudah mulai dilakukan di lingkungan rumah sakit kepada pasien. Namun, edukasi yang lebih luas di tengah masyarakat masih diperlukan agar penggunaan antibiotik menjadi lebih bijak dan tepat sasaran.