Kartini dari Paser: 3 Tahun Emak-Emak Batu Kajang–Muara Kate Hadang Truk Tambang
Kecelakaan demi kecelakaan, debu yang memicu penyakit, hingga korban jiwa menjadi titik balik. Perempuan-perempuan di Batu Kajang hingga Muara Kate memilih tidak lagi diam.
KBK.News, GROGOT – Kecelakaan demi kecelakaan, debu yang memicu penyakit, hingga korban jiwa menjadi titik balik.
Perempuan-perempuan di Batu Kajang hingga Muara Kate memilih tidak lagi diam.
Perlawanan warga di Batu Kajang dan Muara Kate, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, bukanlah gerakan sesaat.
Selama tiga tahun terakhir, kaum perempuan atau yang kerap disebut “emak-emak” justru berada di garis depan menghadang truk tambang yang melintas di jalan negara.
Aksi ini dipicu oleh keresahan panjang. Aktivitas truk hauling batu bara yang berlangsung hampir 24 jam membuat jalan umum berubah fungsi menjadi jalur tambang.
Dampaknya pun nyata—mulai dari kecelakaan lalu lintas, kerusakan infrastruktur, hingga meningkatnya penyakit akibat debu.
Aspiana (49), salah satu warga Batu Kajang, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi penuh risiko, terutama bagi anak-anak.
“Banyak ibu-ibu tidak berani melintas, termasuk mengantar anak sekolah. Sudah banyak kejadian kecelakaan,” ujarnya seperti dilansir eksposkaltim, Sabtu (25/4/2026)
Tak hanya kecelakaan, sejumlah peristiwa tragis juga terjadi.
Warga menjadi korban tabrak lari hingga meninggal dunia, mempertegas bahwa ancaman yang dihadapi bukan lagi potensi, melainkan kenyataan.
Berangkat dari situasi tersebut, warga melalui musyawarah adat memutuskan untuk melakukan penjagaan dan blokade terhadap truk hauling.
Sejak 2023, para perempuan bergantian berjaga siang dan malam demi memastikan truk tidak lagi melintas di jalan negara.
“Aksi ini sudah lama berjalan. Kami berjaga sampai malam, bahkan ada yang membawa anak kecil,” kata Aspiana.
Langkah warga ini merujuk pada Peraturan Daerah Kalimantan Timur Nomor 10 Tahun 2012 yang melarang angkutan batu bara melintasi jalan umum.
Namun, lemahnya penegakan aturan membuat masyarakat merasa harus turun tangan langsung.
Konflik pun tak terhindarkan. Tekanan hingga intimidasi sempat dirasakan warga, termasuk upaya lobi agar truk tetap bisa melintas.
Bahkan, aksi penolakan berujung pada insiden penyerangan posko warga pada November 2024 yang menewaskan satu tokoh adat.
Meski demikian, semangat perlawanan tidak surut. Aksi-aksi simbolik seperti menanam pohon pisang di tengah jalan hingga menghentikan langsung truk yang melintas menjadi bentuk protes yang terus dilakukan.
Seiring waktu, kondisi mulai berangsur membaik.
Aktivitas truk di jalan negara berkurang setelah adanya kebijakan pelarangan serta perhatian dari pemerintah pusat.
Namun bagi warga, perjuangan belum sepenuhnya selesai.
Mereka berharap tidak ada lagi truk tambang yang melintas di jalan umum dan keselamatan masyarakat benar-benar menjadi prioritas.
“Yang kami inginkan sederhana, hidup tenang tanpa rasa takut,” tutup Aspiana.
*/
