KBK.News, MARTAPURA – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap masyarakat di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Selain ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap akibat kebakaran di sejumlah wilayah juga mulai mengganggu aktivitas warga, Senin (10/8/2026).

Pembakal Penggalaman, Nur Ipansyah, mengatakan wilayah desanya cukup luas dan berbatasan hingga wilayah Banjarbaru. Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap potensi kebakaran tidak mudah dilakukan secara menyeluruh selama 24 jam.

“Penggalaman itu sudah siaga. Kita juga sudah membentuk masyarakat peduli api. Cuma namanya wilayah sangat luas, sampai di perbatasan Banjarbaru, wilayah Golok dan sebagainya. Kami tidak bisa memantau 24 jam, sehingga sering kecolongan ada api,” ujar Nur Ipansyah.

Menurutnya, dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat, terutama ketika kabut asap muncul pada malam hingga pagi hari. Jarak pandang warga disebut dapat berkurang drastis hingga hanya sekitar dua sampai tiga meter.

“Kalau malam itu jarak pandangnya sekitar dua sampai tiga meter. Apalagi sudah subuh, itu sampai dua-tiga meter jarak pandangnya,” katanya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas masyarakat yang biasa beraktivitas sejak dini hari, termasuk warga yang hendak pergi ke pasar.

“Biasanya warga turun ke pasar subuh, terpaksa agak siang sedikit karena kabut asap terlalu tebal,” ungkapnya.

Nur Ipansyah menyebut kondisi serupa tidak hanya terjadi di Desa Penggalaman. Sejumlah wilayah lain di Kecamatan Martapura Barat juga sempat mengalami kebakaran, salah satunya di Desa Pematang.

“Ini bukan masalah di desa kami saja, khususnya di kecamatan. Baru-baru ini di Pematang, apinya luar biasa juga,” tuturnya.

Kabut asap yang muncul juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Ia menyebut terdapat laporan warga mengalami keluhan seperti sesak napas dan penyakit pernapasan.

Namun, Nur Ipansyah menegaskan pihak desa tidak dapat memastikan bahwa keluhan tersebut secara medis disebabkan langsung oleh paparan asap karhutla.

BACA JUGA :  Hingga Bulan Juli 2023 Penderita ISPA di Kabupaten Banjar Mencapai 22.549 Kasus

“Kalau laporan dari warga, memang ada yang mengeluhkan sesak napas. Tapi kami tidak bisa memastikan apakah karena asap, karena kami bukan dokter. Dokter yang bisa menentukan apakah ini akibat asap atau bukan,” jelasnya.

Di tengah kondisi kemarau, Nur Ipansyah juga meminta masyarakat di wilayah Kecamatan Martapura Barat dan Kecamatan Sungai Tabuk untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

“Kami sangat berharap masyarakat, khususnya wilayah Kecamatan Martapura Barat dan Sungai Tabuk, sama-sama menjaga wilayah kita. Jangan sampai ada pembakaran yang kemudian meluas,” pintanya.

Selain meningkatkan kewaspadaan masyarakat, Nur Ipansyah juga meminta pengelola irigasi Riam Kanan agar tidak melakukan pengeringan saluran selama kondisi kemarau masih berlangsung.

Menurutnya, keberadaan air di saluran irigasi dapat membantu menjaga kelembapan lahan di sekitar kawasan tersebut sehingga turut mengurangi potensi terjadinya kebakaran.

“Khusus wilayah irigasi Riam Kanan, kami memohon saluran kuarter, tersier, sekunder dan primer harap diisi terus. Diaktifkan terus pintu-pintunya, karena itu salah satu cara membantu pembasahan lahan di sekitar irigasi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi lahan yang lembap akan lebih sulit terbakar dibandingkan lahan yang kering, terlebih sebagian wilayah di sekitar Penggalaman merupakan kawasan lahan gambut.

“Insyaallah itu akan mengurangi kebakaran yang ada. Karena lahan yang lembap dan ada airnya itu membantu agar tidak terbakar,” katanya.

Menurutnya, lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena api dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dipadamkan.

“Sebagian wilayah kita adalah lahan gambut. Kalau terbakar, lahan gambut itu sulit untuk dipadamkan,” tegasnya.

Karena itu, ia berharap pengaturan air pada sistem irigasi Riam Kanan dapat menjadi salah satu langkah pencegahan karhutla selama musim kemarau.

“Untuk irigasi Riam Kanan diharapkan jangan ada pengeringan dulu, karena sangat membantu untuk pembasahan lahan,” pungkasnya.