Lawan Otoritarianisme Digital, AJI dan Akademisi Perkuat Taji Pers Mahasiswa di Banjarmasin
KBK.NEWS BANJARMASIN – Di tengah kepungan algoritma dan bayang-bayang kontrol negara, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Banjarmasin mengambil langkah konkret untuk membekali “darah muda” jurnalisme. Bekerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UII Yogyakarta dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), mereka menggelar pelatihan intensif bertajuk “Menghidupkan Kembali Peran Kritis Pers Mahasiswa di Era Digital dan AI” pada 11–12 April 2026.
Sebanyak 20 aktivis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari berbagai kampus di Banjarmasin berkumpul di Aula Wasaka 3 Gedung Rektorat ULM untuk merespons pergeseran lanskap media yang kian kompleks.
Pers di Tengah Dua “Raksasa”
Guru Besar Ilmu Komunikasi UII, Masduki, memberikan peringatan keras mengenai kondisi pers saat ini. Ia menyebut media kini terjepit di antara dua kekuatan besar: otoritarianisme negara dan dominasi platform global.
“Pers Indonesia menghadapi tekanan ganda; sensor negara yang membatasi ruang kritis, serta otoritarianisme industri digital yang hanya mengejar trafik tanpa peduli kualitas jurnalisme,” tegas Masduki.
Menurutnya, ketika media arus utama mulai goyah akibat krisis model bisnis dan independensi, pers mahasiswa harus muncul sebagai tumpuan. “LPM adalah alternatif vital untuk menghadirkan berita yang jujur dan murni berpihak pada kepentingan publik,” tambahnya.
Sinergi dan Transformasi Teknis
Sekretaris AJI Persiapan Banjarmasin, Arpawi, menyoroti pentingnya solidaritas antar-redaksi kampus. Ia menekankan bahwa di era yang serba cepat ini, kolaborasi adalah kunci keberlangsungan. “Pers mahasiswa tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri. Kita butuh jaringan yang kuat di tingkat kota,” ujarnya.
Pelatihan ini dirancang secara komprehensif, memadukan nilai-nilai ideologis dengan kecakapan teknologi masa kini:
- Fundamen & Etika: Donny Muslim membekali peserta dengan sejarah dan nilai luhur pers mahasiswa.
- Teknik Produksi: Rendy Tisna (penulisan feature dan storytelling) serta Yanda Ramadani (produksi audiovisual) melatih peserta mengemas isu berat menjadi konten yang menarik.
- Adaptasi Teknologi: Ari Arung Purnama menutup sesi dengan pembahasan Jurnalisme AI, menekankan cara memanfaatkan kecerdasan buatan secara etis tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.
Dukungan Kampus terhadap Kontrol Sosial
Plt. Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas ULM, Muhammad Ilyas, yang membuka acara, mengapresiasi langkah ini sebagai ruang pengembangan intelektual.
“Kami berharap kegiatan ini membentuk pers mahasiswa yang profesional dan tetap kritis sebagai kontrol sosial di tengah derasnya arus informasi,” tutur Ilyas.
Tindak Lanjut: Liputan Kolektif
Sebagai bukti nyata dari pelatihan ini, para peserta tidak hanya pulang membawa teori. Mereka ditantang untuk melakukan liputan kolektif yang akan didiskusikan pada pertemuan lanjutan. Langkah ini diharapkan menjadi pemantik bagi pers mahasiswa di Kalimantan Selatan untuk lebih vokal dalam mengawal isu-isu lokal maupun nasional di masa depan.
