KBK.News, BANJARMASIN – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Lambung Mangkurat, Kamis (15/1/2026).

Aksi tersebut menolak wacana pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD. Massa aksi secara tegas menuntut Ketua DPRD Kalsel, H Supian HK, turun langsung menemui mereka dan menerima aspirasi secara terbuka.

Dalam orasinya, mahasiswa menolak berdialog dengan perwakilan selain Ketua DPRD. Mereka menegaskan tidak ingin aspirasi hanya diterima oleh staf atau pejabat lain.

“Kami ingin Ketua DPRD Kalsel keluar menemui massa. Kami menolak dialog jika hanya diwakili pihak lain,” teriak salah satu orator di tengah kerumunan  massa.

Mahasiswa menilai wacana Pilkada melalui DPRD sebagai bentuk kemunduran demokrasi.

Menurut mereka, kepala daerah harus dipilih langsung oleh rakyat, bukan melalui mekanisme politik di internal parlemen.

BACA JUGA :  Donasi Rp 5000 Untuk H2D Bukan Korupsi Dana Bansos

“Pilkada adalah mandat rakyat, bukan hasil konsolidasi elit politik di dalam gedung itu,” seru massa aksi dalam orasi lanjutan.

Situasi mulai memanas ketika massa aksi yang menunggu tanpa kepastian mencoba merangsek masuk ke area kantor DPRD Kalsel.

Upaya tersebut memicu saling dorong antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang melakukan pengamanan.

Bentrok kecil dilaporkan terjadi hingga tiga kali.

Sejumlah mahasiswa terlihat terjatuh dan beberapa di antaranya harus dievakuasi menggunakan ambulans untuk mendapatkan perawatan medis.

Hingga sore hari, aparat keamanan masih melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi.

Sementara itu, Ketua DPRD Kalsel belum terlihat menemui massa aksi, dan unjuk rasa masih berlangsung dengan pengamanan ketat dari kepolisian.

*/