KBK.NEWS BANJARMASIN – Jika Anda melintasi Jembatan Dewi dari arah luar kota, sebuah pemandangan khas akan menyapa di sisi kiri jembatan. Ribuan batang bambu yang terikat rapi menjadi rakit raksasa tampak memenuhi permukaan Sungai Martapura, tepat di kawasan Kelurahan Sungai Baru.

​Pemandangan ini bukan sekadar instalasi air, melainkan denyut nadi ekonomi bagi pengrajin lokal. Di sinilah bahan baku utama untuk perabot rumah tangga, tiang umbul-umbul, tangga, hingga kerangka layang-layang warga Banjarmasin bermuara.

​Perjalanan Panjang dari Hulu

​Meski selalu tersedia melimpah di Banjarmasin, bambu-bambu ini menempuh perjalanan yang tidak sebentar. Menurut Akhmadi, salah satu penjual sekaligus pengangkut bambu di Sungai Baru, pasokan ini didatangkan langsung dari Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

​Proses pengirimannya pun tergolong unik dan tradisional:

  • Hanyut Mengikuti Arus: Batang-batang bambu dirakit dan dihanyutkan menyusuri aliran sungai dari kaki Pegunungan Meratus.
  • Bantuan Perahu Motor: Di titik tertentu, rakit raksasa ini ditarik oleh perahu motor besar menuju kota.
  • Waktu Tempuh: Perjalanan dari Loksado hingga tiba di dermaga darurat Banjarmasin memakan waktu sekitar 4 hingga 5 hari.
BACA JUGA :  Gubernur Kalsel Muhidin Resmikan Peluncuran Kapal Wisata Pinisi
Bambu siap jual (foto KBK.NEWS).

​”Biasanya dari Loksado memakan waktu sekitar empat atau lima hari sampai akhirnya sandar di sini,” jelas Akhmadi saat ditemui di sela kesibukannya, Selasa (27/1/2026).

​Kontras dengan “Mati Suri-nya” Wisata Tetangga

​Menariknya, lokasi sandar rakit bambu ini tepat bersisian dengan destinasi wisata kuliner Kampung Ketupat. Namun, pemandangannya sangat kontras. Jika rakit bambu milik Akhmadi dan kawan-kawan terus berdenyut memenuhi kebutuhan warga, Kampung Ketupat justru tampak lesu dan seolah mati suri tanpa aktivitas berarti.

​Dari Komoditas Menjadi Wisata Adrenalin

​Loksado sendiri memang dikenal sebagai “gudang” bambu di Kalimantan Selatan berkat letak geografisnya di Pegunungan Meratus. Selain sebagai pemasok bahan baku, hutan bambu di sana telah menjelma menjadi destinasi wisata unggulan melalui Bamboo Rafting (Balanting Paring).

​Wisatawan ditantang memacu adrenalin menaklukkan derasnya arus sungai menggunakan rakit bambu yang sama dengan yang digunakan untuk mengirim bahan baku ke Banjarmasin, sembari menikmati asrinya hutan hujan tropis.