KBK.News, BANJARBARU – Nilai-nilai luhur Pancasila tidak boleh hanya dijadikan slogan atau hafalan semata, melainkan harus tertanam dalam kehidupan sehari-hari sebagai panduan hidup berbangsa dan bernegara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Selatan I, H. Muhammad Rofiqi, dalam kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila yang berlangsung di Hotel Grand Qin, Banjarbaru, Rabu (6/8/2025) pagi. Mengangkat tema

“Menanamkan Nilai Pancasila Sebagai Landasan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, kegiatan ini merupakan bagian dari program Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), yang juga merupakan mitra kerja Komisi XIII DPR RI.

“Ini penting untuk terus dilakukan, apalagi generasi muda sekarang banyak diserbu informasi yang belum tentu benar. Kita harus tanamkan nilai-nilai dasar sejak dini,” ujar Rofiqi usai acara.

Ia menyinggung bahwa saat dirinya masih duduk di bangku sekolah, nilai Pancasila begitu akrab bahkan sejak melihat sampul buku pelajaran. “Dulu tiap hari kita dicekoki nilai-nilai luhur. Sekarang justru harus lebih banyak lagi,” tambahnya.

Acara sosialisasi ini diikuti oleh ratusan peserta lintas usia dan profesi. Mulai dari tokoh agama, tokoh adat, pemuda, pelaku UMKM, hingga ibu rumah tangga turut hadir untuk mendalami kembali makna Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Rofiqi menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sejatinya sudah lama hidup dalam budaya masyarakat Kalimantan Selatan, atau Banua. Ia mencontohkan semangat gotong royong dan musyawarah yang masih melekat kuat hingga kini.

“Kita punya budaya manyandang atau saling bantu tanpa pamrih, ada juga tradisi bapakat atau musyawarah. Itu semua bukan barang baru  justru itulah Pancasila yang hidup di tengah kita,” jelasnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, Rofiqi mengingatkan ancaman ideologi dari dalam negeri sendiri, seperti meningkatnya individualisme dan menurunnya rasa memiliki terhadap bangsa.

BACA JUGA :  Turnamen Soeratin U-13 Kabupaten Banjar Sukses, Askab dan KONI Dorong Pembinaan Berkelanjutan

“Zaman sekarang, kita tidak hanya butuh pembangunan jalan dan jembatan. Kita juga harus bangun karakter dan jembatan hati,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya membumikan Pancasila ke berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya di kota, tetapi juga menjangkau desa-desa, sekolah, dan komunitas pemuda. Menurutnya, pembangunan karakter bangsa harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik.

“Masa kita mau serap ideologi luar, sementara kita punya Pancasila yang diperjuangkan dengan darah dan air mata? Jangan sampai kita melupakannya,” tandasnya.

Rofiqi juga memaparkan bahwa nilai-nilai dalam sila-sila Pancasila sudah lama tercermin dalam budaya masyarakat Banua:

Sila Pertama – Ketuhanan Yang Maha Esa: Kalimantan Selatan dikenal religius dengan tradisi pengajian kampung, haul, dan pengaruh ulama besar seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Sila Kedua – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Budaya baimbai atau kerja sama tanpa pamrih serta kesopanan dalam tutur kata mencerminkan keluhuran budi masyarakat Banjar.

Sila Ketiga – Persatuan Indonesia: Beragam etnis seperti Banjar, Dayak, Bugis, dan Jawa hidup rukun dalam bingkai gotong royong dan toleransi.

Sila Keempat – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan: Tradisi bapakat atau musyawarah kampung telah menjadi mekanisme demokratis yang sudah mengakar.

Sila Kelima – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Semangat “Murakata” (Mufakat, Rakat, Seiya-sekata) mewujud dalam gotong royong, koperasi, serta pembagian hasil panen secara adil di pedesaan Banua.

Rofiqi menutup sosialisasi dengan seruan agar Pancasila terus menjadi pelita bangsa di tengah tantangan zaman.

“Pembangunan bangsa tak cukup hanya fisik, tetapi juga jiwa dan karakter. Itu dimulai dari membumikan Pancasila dalam tindakan, bukan hanya dalam pidato,” pungkasnya.