Rupiah Melemah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Menkeu Pastikan Pembayaran Utang Aman dan DPR Gelar Evaluasi
KBK.NEWS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan berat sepanjang tahun 2026. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang garuda resmi menembus level psikologis baru hingga menyentuh angka Rp 18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sejak awal tahun, yang dipicu oleh keperkasaan dolar AS di pasar global. Meski demikian, Pemerintah memastikan bahwa kondisi ini masih dalam batas aman terkendali.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, lonjakan kurs yang melewati ambang Rp 18.000 ini tidak akan mengganggu kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri. Menurutnya, situasi kelolaan fiskal saat ini masih berada dalam skenario yang telah diperhitungkan.
Purbaya menjelaskan, sebagian besar surat utang pemerintah menggunakan skema kupon tetap (fixed coupon). Dengan skema tersebut, kewajiban pembayaran bunga tidak akan berubah secara nominal mata uang asing, meskipun beban konversinya meningkat dalam satuan rupiah.
”Kuponnya konstan (fixed). Cuma pada waktu rupiah melemah, ya memang meningkat dalam rupiah pembayarannya,” ujar Purbaya saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Kendati pemerintah optimistis, situasi ini tetap memantik respons cepat dari legislatif. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memberikan perhatian serius terhadap ambruknya nilai tukar rupiah yang terjadi sejak awal Juni ini.
Sebagai langkah konkret, pimpinan DPR telah memanggil Menteri Keuangan serta Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggelar rapat koordinasi darurat. Pertemuan tersebut diagendakan untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi terkini sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis demi menstabilkan kembali nilai tukar rupiah.
Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
1. Faktor Eksternal (Global)
- Kebijakan Suku Bunga Tinggi Federal Reserve (The Fed): Jika Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lama (higher for longer) untuk meredam inflasi di negaranya, investor global akan cenderung menarik modalnya dari negara berkembang (capital outflow) dan memindahkannya ke aset berdenominasi dolar AS yang lebih aman dan menguntungkan.
- Sentimen Safe Haven akibat Ketegangan Geopolitik: Konflik geopolitik dunia yang memanas sering kali membuat investor menghindari aset berisiko di negara berkembang. Mereka memilih menyelamatkan modalnya ke aset aman (safe haven), terutama dolar AS dan emas, sehingga permintaan terhadap dolar melonjak tajam.
- Keperkasaan Indeks Dolar (DXY): Penguatan ekonomi domestik AS yang berada di luar ekspektasi pasar membuat Indeks Dolar AS terus merangkak naik terhadap mayoritas mata uang utama dunia, termasuk rupiah.
2. Faktor Internal (Domestik)
- Defisit Neraca Transaksi Berjalan: Jika kinerja ekspor Indonesia melandai (misalnya akibat penurunan harga komoditas andalan) sementara angka impor dan pembayaran servis ke luar negeri tetap tinggi, pasokan valuta asing (dolar) di dalam negeri akan menipis.
- Musim Pembayaran Dividen dan Utang Luar Negeri: Pada periode kuartal tertentu, banyak perusahaan korporasi di Indonesia yang membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar untuk membayar dividen kepada pemegang saham asing atau melunasi cicilan utang luar negeri, yang memicu tingginya permintaan dolar di pasar domestik.
- Repatriasi Modal oleh Investor Asing: Penjualan neto instrumen keuangan (seperti saham dan obligasi pemerintah) oleh investor asing di pasar keuangan domestik membuat pasokan rupiah melimpah sementara dolar dibawa keluar, mempercepat depresiasi nilai tukar.
