KBK.News, MARTAPURA – Sanggar Meratus Lestari kembali menggelar pertunjukan seni dan budaya di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam sebagai upaya melestarikan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya adat Dayak kepada masyarakat dan wisatawan, Minggu (5/7/2026).

Ketua Dewan Adat Dayak Banjarbaru sekaligus perwakilan Sanggar Meratus Lestari, Dina Muliana, mengatakan pertunjukan budaya diselenggarakan secara rutin setiap akhir pekan, yakni setiap Sabtu dan Minggu, karena jumlah pengunjung di kawasan wisata tersebut lebih ramai dibandingkan hari biasa.

“Setiap Sabtu dan Minggu kami rutin menggelar pertunjukan. Pada hari Senin hingga Jumat sanggar tetap buka, namun tidak ada pertunjukan rutin setiap hari,” ujar Dina.

Dalam setiap penampilan, Sanggar Meratus Lestari menyajikan beragam tarian tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya Kalimantan. Pertunjukan didukung koleksi kostum yang beragam, mulai dari busana adat khas Kalimantan Selatan hingga kostum yang dibuat secara khusus (custom) sesuai kebutuhan setiap pertunjukan.

Selain menjadi daya tarik wisata budaya, sanggar juga menjadi wadah pelestarian seni tradisional. Saat ini, Sanggar Meratus Lestari memiliki sekitar 30 penari yang tampil secara bergilir sehingga seluruh anggota memperoleh kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka.

BACA JUGA :  Dinas Kehutanan Kalsel Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Tahura Sultan Adam

Dari sisi operasional, terdapat sekitar lima orang yang bertugas di lokasi utama pertunjukan dan dua orang lainnya di bagian pendukung. Sanggar juga telah memiliki kartu identitas atau keanggotaan yang terdaftar di Banjarmasin sebagai bagian dari legalitas organisasi.

Tidak hanya tampil di Tahura Sultan Adam, para penari Sanggar Meratus Lestari juga rutin mengisi berbagai pertunjukan di ruang-ruang publik, seperti kawasan Taman Kamboja dan bandara, yang dijadwalkan setiap hari. Selain itu, sanggar juga sering menerima undangan untuk mengisi berbagai kegiatan pemerintahan, acara resmi, festival budaya, hingga pesta pernikahan.

Menurut Dina, keberlangsungan pertunjukan rutin ini menjadi bentuk komitmen Sanggar Meratus Lestari dalam menjaga eksistensi budaya adat Dayak di tengah perkembangan zaman.

Melalui pertunjukan yang terbuka untuk masyarakat, sanggar berharap generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan seni budaya daerah sebagai bagian dari identitas Banua. (Masruni)