SMP Negeri 10 Banjarmasin Gelar Sepekan Berbahasa Ibu, Lestarikan Bahasa Banjar di Sekolah
KBK.News, BANJARMASIN – SMP Negeri 10 Banjarmasin menggelar kegiatan “Samarak Berbahasa Banjar” dengan tema “Mamanan Adab, Mamagar Budaya di Sakulahan”. Program ini dilaksanakan Selasa, 28/4/26, agar menjadi upaya konkret dalam melestarikan bahasa dan budaya Banjar di lingkungan pendidikan, di tengah arus globalisasi yang kian memengaruhi pola komunikasi generasi muda.
Kegiatan yang berlangsung selama sepekan, mulai hari ini hingga dua hari ke depan, dirancang dengan pendekatan edukatif dan partisipatif.
Sejumlah agenda digelar, di antaranya lomba berpuisi Bahasa Banjar, bepandung, menyanyi lagu daerah, tebak kata Bahasa Banjar, serta pembuatan majalah dinding (mading) bertema budaya Banjar.
Seluruh rangkaian kegiatan melibatkan siswa kelas VII hingga IX sebagai bentuk penguatan kompetensi berbahasa sekaligus apresiasi terhadap kearifan lokal.
Pelaksanaan kegiatan ini selaras dengan Peraturan Wali Kota Banjarmasin Nomor 86 Tahun 2023 tentang revitalisasi Bahasa Banjar yang menekankan pentingnya penguatan penggunaan bahasa daerah melalui jalur pendidikan.
Program ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian bahasa, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal serta menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Kepala sekolah, Dra. Suriasa, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi wadah kreativitas siswa, melainkan juga implementasi kebijakan pemerintah daerah terkait pengajaran bahasa daerah di sekolah.
“Kegiatan Samarak Berbahasa Banjar diintegrasikan dalam Projek 8 Dimensi Profil Lulusan, khususnya pada dimensi komunikasi dan refleksi, sehingga memiliki nilai edukatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, melalui kegiatan ini diharapkan ragam Bahasa Banjar yang mulai jarang digunakan dapat kembali diperkenalkan kepada generasi muda.
Dengan pendekatan kreatif, kontekstual, dan partisipatif, siswa diharapkan tidak hanya mengenal, tetapi juga mampu mengaplikasikan Bahasa Banjar dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. (Masruni)
