​KBK.NEWS, AMUNTAI — Memperingati Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026 ini, sekelompok pemuda di Kota Amuntai menggelar aksi lingkungan dengan membentangkan kain hitam bertuliskan “Hijaukan Alamnya Selamatkan Generasi” di Jembatan Paliwara, Selasa pagi.

​Aksi yang dikomandoi tokoh pemuda Emma Rivilla, yang juga cucu dari tokoh lokal Bihman Villa, ini menjadi seruan moral kepada masyarakat dan pemerintah daerah untuk lebih peduli terhadap krisis ekologi di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

​Dalam orasinya, Emma menjelaskan bahwa slogan “Hijaukan Alamnya” mengandung makna mendalam tentang tanggung jawab kolektif untuk merawat dan melestarikan lingkungan.

“Pelestarian alam tidak sebatas menanam pohon, melainkan mencakup upaya menjaga kelestarian hutan, melindungi daerah aliran sungai, mengurangi volume sampah, serta menghentikan segala bentuk perusakan lingkungan di wilayah HSU,” tegas Emma.

​Menurutnya slogan “Selamatkan Generasi” sebagai bentuk penegasan bahwa kondisi alam hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi masa depan.

“Kerusakan lingkungan saat ini akan membebani anak cucu di kemudian hari dengan berbagai bencana ekologis, seperti banjir, kekeringan, pencemaran, hingga hilangnya sumber-sumber penghidupan,” ujar Emma mengingatkan semua pemangku kepentingan di Hulu Sungai Utara.

​Selain menyerukan pelestarian lingkungan, aksi ini juga dimanfaatkan para pemuda untuk menagih komitmen politik pemerintah daerah. Mereka mengingatkan kembali janji politik yang pernah diucapkan Bupati dan Wakil Bupati HSU terpilih untuk tidak memberikan izin penambahan atau perluasan pohon sawit di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

​Aksi damai ini ditutup dengan pengingat akan nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda 1928, sebagai momentum kebangkitan pemuda Indonesia untuk terus bersatu dan menjaga bumi pertiwi.

​Catatan: Dampak Buruk Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

​Meskipun menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar kerap memicu berbagai permasalahan lingkungan dan sosial yang signifikan, antara lain:

  1. ​Deforestasi dan Hilangnya Keanekaragaman Hayati: Pembukaan lahan sawit sering kali dilakukan dengan cara pembukaan hutan primer dan sekunder. Hal ini memicu hilangnya habitat asli satwa liar dilindungi (seperti orangutan, harimau sumatera, dan gajah) serta mempercepat laju kepunahan flora dan fauna endemik.
  2. ​Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Krisis Air: Alih fungsi hutan menjadi monokultur sawit menurunkan daya serap tanah terhadap air hujan. Akibatnya, risiko erosi, banjir bandang di musim hujan, serta kekeringan parah di musim kemarau menjadi lebih tinggi, yang langsung berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat sekitar.
  3. ​Degradasi Lahan dan Emisi Karbon: Pembukaan perkebunan sawit, terutama di atas lahan gambut, memicu pelepasan gas rumah kaca (karbon dioksida) dalam jumlah besar ke atmosfer, yang memperparah krisis iklim global serta membuat tanah mudah terdegradasi dan rentan terhadap kebakaran hutan (karhutla).
  4. ​Konflik Agraria dan Sosial: Ekspansi sawit sering kali bersinggungan dengan wilayah adat atau ruang penghidupan masyarakat lokal, memicu sengketa kepemilikan tanah, hilangnya sumber pendapatan tradisional masyarakat adat, serta ketimpangan ekonomi di pedesaan
BACA JUGA :  Keluhkan Tanpa Kepala Desa, Warga Desa Karias Dalam Sulit Bertemu Pj Bupati HSU